18 Mei 2022

Jalanan Jogja

Menyusuri Jalanan Jogja

Diorama koleksi Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta. Foto: jalanan Jogja.

Diorama koleksi Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta. Foto: jalanan Jogja.

5 Museum Dekat Malioboro Jogja, Rugi Kalau Gak Berkunjung

JALANAN JOGJA – Ada 5 museum dekat Malioboro, atau setidaknya tidak terlalu jauh dari titik nol kilometer atau kawasan Malioboro, Jogja.

Dua museum terdekat dari kawasan itu adalah Museum Benteng Vredeburg dan Museum Sonobudoyo.

Sementara tiga museum lainnya adalah Museum Kereta Keraton Yogyakarta, Museum Biologi UGM, dan Museum Sasmitaloka Panglima Besar Jenderal Sudirman.

Berikut kelima museum tersebut.

Dekat Malioboro, Museum Benteng Vredeburg

Museum Benteng Vredeburg terletak tepat di sisi timur laut perempatan titik nol kilometer Jogja, atau tepat di sebelah timur (depan) Gedung Agung.

Salah satu koleksi Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta. Foto diambil sebelum pandemi. Foto: Jalanan Jogja

Atau untuk lebih mudahnya, lokasinya berseberangan dengan kantor pos besar Yogyakarta.

Tiket masuk ke museum ini sangat terjangkau, yakni Rp3 ribu untuk orang dewasa, dan Rp2 ribu untuk pelajar atau anak-anak.

Di dalamnya, kamu bisa melihat cukup banyak koleksi benda bersejarah serta diorama yang menceritakan tentang perjuangan melawan penjajah.

Ada juga beberapa patung pahlawan, serta patung yang menggambarkan para pejuang Indonesia sedang melawan penjajah.

Seorang pengunjung memotret diorama koleksi Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta, 12 Oktober 2019. Foto: jalanan Jogja.

Setidaknya ada empat macam diorama yang menggambarkan kisah berbeda antara satu dengan lainnya.

Mengutip dari laman Vredeburg, diorama 1 terdiri dari 11 minirama yang menggambarkan peristiwa sejak periode Pangeran Diponegoro sampai masa pendudukan Jepang di Yogyakarta.

Selanjutnya, diorama 2 terdiri dari 19 minirama yang menggambarkan peristiwa sejarah Proklamasi Kemerdekaan sampai dengan Agresi Militer Belanda di Indonesia.

Diorama koleksi Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta. Foto: jalanan Jogja.

Kemudian, diorama 3 terdiri dari 18 minirama yang menggambarkan peristiwa sejak adanya Perjanjian Renville sampai pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat.

Dan yang terakhir, diorama 4 terdiri dari 7 buah minirama yang menggambarkan peristiwa sejarah pada saat periode Negara Kesatuan Republik Indonesia sampai pada Masa Orde Baru.

Buat kamu yang berniat dolan atau mengunjungi Museum Benteng Vredeburg, ini jadwal layanan kunjungan di museum itu.

Selasa – Minggu : Pukul 08.30 – 15.00 WIB

Istirahat : Pukul 12.00 – 13.00 WIB

Senin dan libur nasional tutup.

Sejarah Singkat Benteng Vredeburg

Pembangunan Benteng Vredeburg pada tahun 1760 atas perintah Sri Sultan Hamengku Buwono I dan permintaan pihak pemerintah Belanda.

Salah satu patung koleksi Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta. Foto diambil sebelum pandemi. Foto: Jalanan Jogja

Saat itu pemerintah Belanda dipimpin Nicholaas Harting sebagai Gubernur Direktur Pantai Utara Jawa.

Pihak Belanda kala itu berdalih pembangunan benteng untuk menjaga kemananan. Tetapi, sebenarnya pembangunan benteng ini untuk memudahkan pengawasan Belanda terhadap segala kegiatan pihak Keraton Yogyakarta.

Pembangunan benteng kala itu dalam bentuk sederhana, bertembok tanah, dengan tiang-tiang yang terbuat dari kayu pohon kelapa dan aren, serta atap ilalang.

Dekat Malioboro, Museum Sonobudoyo

Museum lain yang terletak di sekitar titik nol kilometer Jogja, atau di sekitar Malioboro dan Alun-alun Utara adalah Museum Sonobudoyo.

Masih seperti yang sebelum-sebelumnya, aku nggak lupa mengingatkan bahwa Jogja nggak bisa lepas dari yang namanya kenangan, sejarah, dan rindu.

Mungkin sebaiknya kali ini nggak perlu dulu membahas rindu. Sebab, tanpa aku bahas pun kamu pasti tahu bahwa rasa rindu ini tetap tersimpan, dan semoga bukan hanya jadi kenangan.

Kembali ke kenangan dan sejarah. Selain jadi salah satu daerah tujuan dolan atau berwisata, Jogja juga merupakan kota bersejarah (yang tentu saja sejarahnya akan terus terkenang).

Seorang anak menyentuh kaca etalase tempat koleksi keris Museum Sonobudoyo. Saat kaca disentuh, keris di dalam etalase terlihat menyala.

Nah, salah satu lokasi untuk menyimpan sejarah, eh bukan menyimpan ding, sepertinya lebih tepat kalau kita sebut dengan lokasi belajar sejarah, adalah museum.

Buat kamu yang kebetulan lagi dolan atau jajan di Jogja, nggak ada salahnya kalau mampir di Museum Sonobudoyo ini. Letaknya tepat di sebelah utara Alun-alun Utara, atau di selatan titik nol.

Biasanya nih, wisatawan yang ke Jogja kan selalu dolan ke Malioboro. Nah, sempatkan saja sedikit waktu buat ngelihat koleksi sejarah di Museum Sonobudoyo.

Harga Tiket Masuk

Untuk belajar sejarah dan melihat langsung koleksi benda-benda bersejarah di Museum Sonobudoyo, kamu nggak perlu merogoh kantung dalam-dalam.

Museum dekat Malioboro Jogja yang pengelolaannya oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ini, mematok harga tiket masuk yang sangat terjangkau.

Tiket untuk orang dewasa harganya cuma Rp3000, dan tiket untuk anak-anak cuma Rp2500.

Tapi, sebelum masuk ke area museum, pengunjung wajib mencuci tangan dan menunjukkan kartu vaksin atau memindai kode batang di aplikasi PeduliLindungi.

Suhu tubuhmu juga bakal diperiksa sebelum memasuki area museum. Setelah itu, kamu boleh masuk melewati pintu yang dijaga oleh mbak-mbak dan mas-mas.

Di ruangan pertama, seperangkat alat musik tradisional akan menyambut siapa saja yang datang. Kamu bisa berswafoto dengan latar belakang gamelan.

Saat memasuki ruangan kedua dan seterusnya, kamu bisa melihat sejumlah barang koleksi jadul yang ada di dalam etalase kaca.

Jangan kaget kalau di salah satu ruangan, ada replika tengkorak yang tergeletak di dalam semacam peti mati terbuat dari batu, di bawah lantai.

Di ruangan selanjutnya juga terdapat sejumlah benda lawas, mulai dari kapak batu, senjata tradisional seperti keris, hingga wayang dan koleksi permainan tradisional anak.

Paduan Lawas dan Modern

Uniknya lagi, di salah satu ruangan, tempat sejumlah senjata tradisional terpajang di etalase kaca, kamu bisa “menyalakan” keris yang ada di dalamnya.

Kamu cukup menempelkan ujung jari ke permukaan kaca, tepat di depan senjata yang ingin kamu munculkan keterangannya. Setidaknya ada tiga keris yang bisa menyala saat pengunjung menyentuh kacanya.

Selanjutnya, di ruangan lain, yang berisi sejumlah tokoh wayang kulit, kamu bisa menyaksikan film animasi yang diproyeksikan di dinding ruangan.

Seorang anak menyasikan pertunjukan wayang tentang Ramayana di Museum Sonobudoyo, Jogja, Jumat, 21 Januari 2022. Foto: Jalanan Jogja

Secara umum, Museum Negeri Sonobudoyo memiliki total 10 jenis koleksi yaitu :

1. Koleksi Geologi

2. Koleksi Biologi

3. Koleksi Etnografi

4. Koleksi Arkeologi

5. Koleksi Historika

6. Koleksi Numismatika

7. Koleksi Filologika

8. Koleksi Keramologika

9. Koleksi Senirupa

10. Koleksi Teknologi

Museum Kereta Keraton Yogyakarta

Kalo kamu suka melihat benda-benda unik plus antik, seperti kereta kuda berusia ratusan tahun, ada baiknya mendatangi Museum Kereta Keraton saat berkunjung ke Jogja.

Museum Kereta Keraton Yogyakarta terletak masih di seputaran alun-alun, Malioboro, keraton, dan titik nol kilometer Jogja.

Ornamen pada Kereta Kiai Garuda Yeksa koleksi Museum Kereta Keraton Yogyakarta. Foto: Jalanan Jogja

Museum dekat Malioboro Jogja ini terletak di tengah kota, hanya beberapa ratus meter di sebelah barat Keraton Yogyakarta.

Kereta yang ada bukan sembarang kereta. Selain berusia ratusan tahun dan sebagian merupakan buatan Belanda, kereta-kereta itu merupakan pusaka keraton yang dapat dilihat secara terbuka oleh masyarakat umum.

Museum Kereta Keraton Yogyakarta buka mulai jam delapan pagi hingga pukul empat sore. Untuk melihat koleksi kereta-kereta di sana, kamu cukup membayar sebesar Rp5 ribu per orang.

Saat ini jumlah kereta yang menjadi koleksi atau milik Keraton Yogyakarta sebanyak 23 kereta, dan hanya digunakan saat upacara penting.

Kereta Berusia Ratusan Tahun

Dari puluhan kereta tersebut, kereta bergelar Kanjeng Nyai Jimad merupakan yang tertua. Dikutip dari laman resmi Keraton Yogyakarta, Kanjeng Nyai Jimad  merupakan kereta buatan Belanda antara tahun 1740-1750.

Kereta bergaya Renaissance itu hadiah dari Gubernur Jenderal VOC Jacob Mussel (1750-1761) untuk Sri Sultan Hamengku Buwono I setelah perjanjian Giyanti pada tahun 1755.

Di Eropa, kereta bergaya Renaissance semacam itu biasanya pemiliknya adalah bangsawan kelas tertinggi atau para raja.

Kanjeng Nyai Jimat “pensiun” sebagai kereta kencana Sultan setelah periode Sri Sultan Hamengku Buwono III (1812-1814).

Meski demikian, hingga kini setiap tahun pada hari Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon pada bulan Sura, Kereta Kanjeng Nyai Jimat dibersihkan.

Museum Kereta Keraton Yogyakarta juga memiliki koleksi kereta yang sangat unik dan terkesan mewah, yaitu Kereta Kiai Garuda Yeksa.

Hiasan dan ornamen pada kereta pusaka Kiai Garuda Yeksa terlihat sangat mewah, dengan dominasi warna kuning emas.

Pada atap kereta buatan tahun 1861 di Amsterdam, Belanda, tersebut terdapat ornamen ukiran menyerupai mahkota dengan beberapa ornamen binatang.

Kereta ini dipergunakan sejak masa Sri Sultan Hamengkubuwono VI (1855-1877), saat ini hanya digunakan dalam prosesi penobatan sultan.

Model kereta Kiai Garuda Yeksa sama dengan kereta kencana yang digunakan Kerajaan Belanda, yang bergelar Gouden Koets (Kereta Emas) yang pembuatannya tahun 1899 dan Ratu Belanda masih menggunakan untuk upacara kebesaran setiap tahun hingga saat ini.

Kereta Kiai Garuda Yeksa koleksi Museum Kereta Keraton Yogyakarta. Foto: Jalanan Jogja

Kereta Kiai Garuda Yeksa adalah kereta yang menggunakan delapan ekor kuda sebagai penariknya, hadiah Ratu Wilhelmina kepada Sultan Hamengkubuwono VI.

Lebih dari separuh koleksi kereta Keraton Yogyakarta merupakan buatan Belanda, dan 15 di antaranya merupakan kereta yang pada zaman Sri Sultan Hamengku Buwono VII dan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII.

Museum Sasmitaloka Jenderal Sudirman

Gedung ini menyimpan benda bersejarah milik Jenderal Soedirman, termasuk tandu yang digunakannya untuk memimpin perang gerilya.

Letaknya hanya sekitar dua kilometer ke arah timur dari titik nol Jogja, tepatnya di Jl Bintaran Wetan.

Pintu utama di gedung utama Museum Sasmitaloka Panglima Besar Sudirman. Foto: Jalanan Jogja

Untuk menuju museum ini, kamu bisa menggunakan kendaraan umum seperti bus TransJogja atau ojek online alias daring.

Di museum dekat Malioboro Jogja, ini kamu bisa melihat sejumlah benda bersejarah milik Jenderal Soedirman maupun benda bersejarah yang pernah dia gunakan dalam bergerilya melawan penjajah.

Setidaknya ada 11 ruangan di museum yang dulunya merupakan kediaman dinas Jenderal Soedirman beserta keluarga.

Oh iya, untuk masuk dan melihat koleksi museum yang pengelolaannya oleh TNI AD ini, kamu tidak perlu membayar alias gratis.

Bukan cuma gratis, di sini kamu juga bisa menambah pengetahuan tentang perjuangan Jenderal Soedirman.

Mengutip laman kebudayaan.jogjakota.id, Sasmitaloka memiliki arti tempat untuk mengingat dan mengenang, sesuai dengan tujuan museum ini, yakni mengenang jasa dan pengabdian Jendral Soedirman.

Koleksi Bersejarah Museum Sasmitaloka

Bangunan Museum Sasmitaloka berdiri sejak masa pemerintah Hindia Belanda, tepatnya pada tahun 1890. Gedung ini pernah menjadi kediaman dinas resmi Jendral Sudirman dan Keluarga sejak 18 Desember 1945 sampai 19 Desember 1948.

Saat memasuki gedung utama yang terletak di bagian tengah, kamu akan melihat replika tandu Jenderal Soedirman saat memimpin perang gerilya.

Di replika tandu itu juga terdapat patung Jenderal Soedirman. Sementara di sisi kiri ruangan terdapat satu set meja dan kursi kayu yang Jenderal Soedirman sempat menggunakannya.

Terdapat dua senjata yang salah satunya merupakan senjata rampasan buatan Jepang, yakni senjata Juki.

Di dalam bangunan utama itu juga terdapat empat ruangan lain, yakni kamar tidur tamu dan kamar tidur pribadi Jenderal Soedirman, lengkap dengan tempat tidur dan kelambu serta meja dan kursi.

Kamu bisa melihat koleksi bersejarah lain, berupa mesin jahit lawas milik istri Jenderal Soedirman.

Pada gedung sisi kiri dan kanan terdapat sejumlah koleksi bersejarah lainnya, termasuk kereta dorong yang menemani Jenderal Soedirman bergerilya.

Kereta itu sebenarnya merupakan kereta kuda, tetapi demi menjaga keamanan agar tidak terdeteksi oleh penjajah kala itu, kereta itu kemudian menggunakan tenaga manusia sebagai pendorong.

Di situ juga terdapat panel-panel diorama yang menceritakan perjalan Jendral Sudirman saat melakukan perang gerilya.

Replika tandu dan patung Jenderal Soedirman di Museum Sasmitaloka Panglima Besar Sudirman. Foto: Jalanan Jogja

Diorama saat Jenderal Soedirman menjalani perawatan di Rumah Sakit Panti Rapih pun ada di museum itu.

Jika di gedung utama kamu akan melihat replika tandu, di gedung sisi kanan, kamu bisa melihat langsung tandu aslinya, yang tersimpan rapi dalam kotak kaca.

Nah, kalau kamu penyuka sejarah dan ingin menambah pengetahuan, sepertinya Museum Sasmitaloka harus kamu masukkan dalam daftar rencana kunjungan saat kamu sedang di Jogja.

Museum Biologi UGM

Lokasi Museum Biologi UGM tidak terlalu jauh dari titik nol kilometer Jogja, hanya sekitar 1,5 kilometer ke arah timur, tepatnya di Jl Sultan Agung No. 22 Yogyakarta.

Museum Biologi UGM yang merupakan bagian dari Fakultas Biologi Universitas gadjah Mada (UGM) ini menyimpan koleksi beragam flora dan fauna, alias tumbuhan dan hewan.

Seorang anak perempuan berdiri di dekat salah satu koleksi milik Museum Biologi UGM Jogja, Kamis, 10 Februari 2022. Foto: Jalanan Jogja.

Sebagian koleksi hewan yang ada di museum dekat malioboro ini merupakan hewan mati yang sudah menjalani proses pengawetan. Mungkin seperti perasaanmu yang telah mati, tapi tetap awet kujaga.

Mengutip dari laman resmi Museum Biologi UGM, museum ini menyimpan 1.383 koleksi Biologika, 14 koleksi Arkeologika, 1 koleksi Historika, dan 1 koleksi Etnografi.

Museum Biologi UGM termasuk kategori museum khusus pendidikan, dengan fokus pendidikan hayati.

Koleksi tumbuhan yang ada di museum ini berupa herbarium basah dan kering. Sedangkan koleksi hewan atau fauna berupa awetan basah, taksidermi dan kerangka.

Sebagian koleksi yang ada di situ berasal dari Indonesia, tapi, ada juga dari luar negeri yang merupakan sumbangan dari peneliti, dosen maupun masyarakat.

Beberapa kolesi merupakan fauna langka dan terlindungi seperti komodo, harimau, beruang madu, trenggiling, burung cendrawasih dan burung elang.

Ada beberapa koleksi yang mungkin menarik buat kamu, misalnya beragam jenis ular yang telah mengalami proses pengawetan di dalam toples, termasuk telur ular kobra Jawa.

Beberapa kerangka hewan juga ada di situ, mulai dari duyung hingga gajah dan badak Jawa.

Lokasi Museum Biologi UGM dan Tiket Masuk

Seperti yang sudah tertulis di awal, lokasi Museum Biologi UGM Jogja terletak dekat Malioboro, Jogja, hanya sekitar 1,5 kilometer dari titik nol kilometer Jogja.

Kamu bisa meluangkan waktu untuk megunjungi museum ini saat dolan atau jajan di kawasan Malioboro.

Jika dari arah Malioboro, kamu bisa menggunakan angkutan umum Bus TransJogja, atau menggunakan jasa becak motor yang biasanya ada di sekitar Malioboro.

Atau, kalau kamu enggan repot dan lebih suka simpel, kamu bisa menggunakan jasa angkutan umum onine atau ojek online.

Tiga anak melihat koleksi ular yang diawetkan di Museum Biologi UGM Jogja, Kamis, 10 Februari 2022. Foto: Jalanan Jogja

Meskipun di museum ini kamu bisa belajar dan menambah pengetahuan, kamu nggak harus merogoh kocek dalam-dalam untuk bisa melihat langsung koleksi Museum Biologi UGM.

Pengelola mematok harga tiket masuk sebesar Rp5 ribu untuk pelajar, dan Rp7 ribu untuk orang dewasa atau nonpelajar. Harga yang sangat terjangkau untuk mendapatkan pengalaman dan pengetahuan.

Setelah puas mengelilingi sejumlah ruangan dan melihat koleksi milik museum, kamu bisa kembali ke kawasan Malioboro atau memilih untuk mengunjungi museum lain di sekitar situ.

error: Content is protected !!