17 Mei 2022

Jalanan Jogja

Menyusuri Jalanan Jogja

Struktur runtuhan di area situs Candi Ijo. Foto: Jalanan Jogja.

Struktur runtuhan di area situs Candi Ijo. Foto: Jalanan Jogja.

Candi Ijo, Bangunan Tua Berusia Ratusan Tahun di Timur Jogja

JALANANJOGJA.COM – Candi Ijo merupakan salah satu bangunan yang menyimpan sejarah. Candi berusia ratusan tahun ini perkiraan pembuatannya sekitar 850 hingga 900 Masehi.

Candi Ijo terletak di Dusun Groyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Jika ingin berkunjung ke candi ini, sebaiknya kamu menggunakan kendaraan pribadi atau kendaraan sewa.

Sebab, belum ada kendaraan umum yang menjangkau lokasi yang berjarak sekitar 20 kilometer dari Kota Yogyakarta ini.

Akses jalan menuju candi ini cukup bagus, dengan aspal yang cukup halus. Tapi, jalurnya sangat menanjak dan cukup curam.

Sebaiknya kamu berhati-hati jika ingin mengunjungi candi ini menggunakan kendaraan pribadi. Kamu bisa mengikuti peta google ini.

Lokasi Candi Ijo yang berada di atas perbukitan menjadi nilai tambah obyek wisata budaya ini. Kamu bisa menyaksikan pemandangan kota dari area candi.

Situs Candi Ijo berupa lahan berteras-teras dengan 17 struktur bangunan yang tersebar pada 11 teras.

Mengutip laman resmi Kemdikbud, teras teratas merupakan teras yang paling suci. Candi Induk berukuran 18,43 x 18,45 meter, dan tinggi 16 meter terletak di sini.

Di dalam bilik candi induk terdapat lingga-yoni, melambangkan Dewa Siwa menyatu dengan Dewi Parwati.

Sayangnya, saat Jalanan Jogja berkunjung ke sana, Jumat, 25 Maret 2022, pengunjung sudah tidak boleh mengakses bagian dalam candi. Ada semacam palang di pintunya.

Pada dinding luar candi induk terdapat relung-relung berisi arca Agastya, arca Ganesa, dan arca Durga.

Di sisi depan candi  induk terdapat tiga candi lain yang menghadap ke timur. Candi perwara selatan berukuran  5, 19 x 5, 17 meter, dengan tinggi 6,62 meter.

Candi perwara tengah berukuran 6,3 x 5,15 meter, tinggi 6,5 meter. Di dalam biliknya terdapat arca Nandi dan padmasana.

Sementara, candi perwara utara berukuran 5,11 x 5, 11 meter, dengan tinggi 6,3 meter. Di dalamnya biliknya terdapat sumuran.

Sayangnya lagi, akses masuk ke bagian dalam candi perwara tersebut juga tertutup dengan palang.

Candi Ijo dan Sejarahnya

Selain empat candi yang terletak di bagian paling atas area situs, juga terdapat sisa-sisa batur bangunan yang menghadap ke timur.

Di teras kedelapan terdapat tiga buah candi dan empat buah batur bangunan serta ditemukan dua buah prasasti batu.

Pada teras kelima juga terdapat satu candi dan dua batur, sedangkan pada teras keempat dan teras pertama, masing-masing terdapat satu buah candi.

Jika menilik dari temuan arca-arca di Candi Ijo, kuat dugaan candi ini berlatar belakang agama Hindu.

Sedangkan, jika berdasarkan data epigrafi, diperkirakan pembangunannya sekitar tahun 850 – 900 Masehi.

Itu berarti pada era Rakai Pikatan dan Rakai Kayuwangi (prasasti dari Raja Balitung) dari kerajaan Mataram Kuno.

Penelitian Candi Ijo dilakukan oleh Dinas Purbakala sejak tahun 1958, sementara pemugaran pada candi induk oleh Balai Cagar Budaya DIY selesai tahun 1997.

Sementara, pemugaran tiga candi perwara di depan candi induk mulai tahun 2000 hingga 2003. Pemugaran terus berlanjut hingga kini.

Sampai saat ini masih banyak temuan struktur dalam kondisi runtuh. Ya, runtuh, seperti asa ini saat kau pergi.

Konon untuk membangun candi ini tidak hanya digunakan batu-batu dari Gunung Merapi yang terdapat di lokasi candi, namun juga batu sejenis yang didatangkan dari berbagai tempat.

Harga Tiket Masuk

Candi Ijo terbuka untuk umum dengan harga tanda masuk yang cukup terjangkau, yakni Rp7 ribu per orang untuk sekali masuk.

Di masa pandemi, kamu dan pengunjung lain wajib menaati protokol kesehatan, termasuk mengukur suhu tubuh saat memasuki area candi.

Selain itu, kamu wajib mengenakan masker selama berada di area situs candi tersebut. Pengunjung juga wajib meminta izin jika ingin menerbangkan drone di kawasan itu.

Jika ingin berkunjung ke Candi Ijo, sebaiknya datang pada pagi atau sore hari, saat matahari tidak terlalu panas menyengat.

Dari area situs itu, kamu bisa berswafoto dengan latar belakang pemandangan kota di kejauhan, atau berlatar belakang candi.

Kamu juga bisa duduk di semacam kursi kayu, di bawah pohon kersen di sebelah timur candi utama, sambil menunggu matahari bergerak ke barat.

Atau, sekadar menikmati indahnya bangunan dari masa lalu, yang tentunya tak seindah kenangan kita dalam benakku.

Setelah puas menikmati keelokan masa lalu di area situs tersebut, kamu bisa mengunjungi Tebing Breksi atau Candi Banyunibo, yang terletak tidak jauh dari Candi Ijo.

 9,498 kali dilihat,  42 kali dilihat hari ini

error: Content is protected !!