18 Mei 2022

Jalanan Jogja

Menyusuri Jalanan Jogja

Pengunjung Diorama Arsip Jogja menyaksikan koleksi tempat itu. Foto: Jalanan Jogja.

Pengunjung Diorama Arsip Jogja menyaksikan koleksi tempat itu. Foto: Jalanan Jogja.

Diorama Arsip Jogja, Bisa Bikin Betah Belajar dan Tinggal di Kota Ini

JALANANJOGJA.COM – Diorama Arsip Jogja menambah tempat dolan sekaligus belajar di Yogyakarta, khususnya sejarah Jogja sejak Kerajaan Mataram hingga kini.

Lagi-lagi kita menyusuri jalanan Jogja untuk dolan yang bermanfaat, dan kali ini lokasi yang kita datangi adalah Diorama Arsip Jogja, yang peresmiannya belum cukup sepekan.

Di sini kamu bisa belajar sejarah tanpa merasa bosan. Sebab, tambahan ilmu bisa kamu peroleh dengan cara menyenangkan.

Kamu bisa belajar cukup dengan menonton sejumlah film pendek, plus melihat langsung beragam arsip beserta penjelasannya.

Diorama Arsip Jogja terletak di Ghratama Pustaka, di area Gedung Arsip Daerah Yogyakarta, tepat di sebelah timur Jogja Expo Center (JEC), atau sekitar 4,5 kilometer dari kawasan Malioboro.

Pengunjung memasuki ruang diorama 2. Foto: Jalanan Jogja.

Kamu bisa mengikuti tautan peta Google ini untuk menuju ke sana.

Di tempat ini ada 18 ruang diorama, dengan kisah sejarah yang berbeda dari masing-masing ruang. Meski kisahnya berbeda, tapi semua berkesinambungan, seperti yang kau tahu tentang perasaanku.

Tempat dolan ini buka mulai pukul 09.00 WIB hingga pukul 14.20 WIB, kecuali hari libur dan hari raya.

Ada waktu-waktu tertentu buat kamu yang ingin melihat langsung koleksi diorama. Kamu nggak bisa ujug-ujug datang dan masuk. Dalam sehari terdapat 10 sesi, yang masing-masing sesi terbatas untuk 20 orang.

Baca juga: 5 Museum Dekat Malioboro Jogja, Rugi Kalo Nggak Berkunjung

Jeda antar-sesi sekitar 20 menit, sementara waktu kunjungan di dalam area diorama selama 90 menit setiap sesi.

Artinya, selama 90 menit kamu bakal belajar bersama seorang pemandu di dalam area diorama tersebut.

Ruangan Diorama Arsip Jogja

Sebanyak 18 ruangan diorama menantimu menginjakkan kaki di lantainya. Cukup banyak memang. Tapi, kamu harus tahu, ada satu ruangan khusus dalam hati ini untukmu, istimewa.

Saat memasuki ruang diorama pertama, suguhan film tentang beridirnya hingga masa kejayaan Kerajaan Mataram. Itu mulai sejak sekitar 500 tahun yang lalu.

Menjelang akhir film animasi tersebut, kamu bakal melihat hologram perempuan cantik khas Jawa, lengkap dengan selendangnya.

Setelah selesai di ruang pertama, pemandu bakal mengajak kamu berjalan ke sisi kiri, menuju ruang diorama selanjutnya yang berisi replika naskah-naskah kuno dari serat dan babat.

Selanjutnya, saat memasuki ruang diorama tiga, ada kisah tentang intervensi VOC dan intrik politik kolonial di dalam keraton.

Pengunjung Diorama Arsip Jogja menyaksikan koleksi tempat itu. Foto: Jalanan Jogja.

Dalam ruang diorama empat, sejumlah replika dokumen kuno kembali tersaji, lengkap dengan animasi foto para Sultan Keraton Yogyakarta yang muncul silih berganti.

Kemudian, ketika memasuki ruang diorama lima, tersaji adegan film animasi dengan layar dinding ruangan yang berbentuk pojok beteng Jogja. Animasi tersebut adalah cerita tentang peristiwa Geger Sepehi.

Memasuki ruang diorama enam, hadir sejarah tentang Puro Pakualaman. Selanjutnya, pada ruang diorama tujuh, menceritakan tentang sejarah perjuangan, termasuk robohnya tugu Golong Gilig akibat gempa bumi tahun 1867.

Rel Kereta di Bawah Lantai Kaca

Selanjutnya, ada hal yang cukup menarik di ruang diorama delapan, yakni lantai kaca dengan rel kereta api di bawahnya. Tenang saja, kaca itu cukup tebal dan kuat menahan berat tubuhmu.

Di sekeliling ruangan terdapat cermin, termasuk di ujung kiri dan kanan, sehingga sekilas terlihat rel tersebut cukup panjang.

Sementara, di dindingnya terputar film hitam putih tentang beragam perubahan di Jogja.

Di ruang sembilan, menceritakan tentang era pergerakan organisasi modern. Selanjutnya, di ruang diorama 10 memunculkan cerita tentang kerja paksa dan pembangunan Selokan Mataram untuk pencegahannya.

Ruangan diorama dengan lantai kaca dan rel kereta api. Foto: Jalanan Jogja

Memasuki ruang 11 diorama, kisah tentang perjuangan zaman kemerdekaan dapat kamu nikmati, lengkap dengan replika karung pasir beserta kawat berduri.

Di ruangan selanjutnya juga muncul kisah-kisah menarik, termasuk tentang aksi mahasiswa tahun 1998 hingga gempa bumi dahsyat tahun 2006.

Tapi, sebaiknya kamu datang berkunjung langsung ke tempat ini, supaya bisa merasakan sendiri keseruan dan kesaksian sejarah.

Di akhir perjalanan, kamu bakal melihat rekaman video dari sejumlah orang tentang Jogja, mulai yang ngangenin seperti kamu, hingga yang merasa kehilangan.

Galeri Foto Diorama Arsip

 2,978 kali dilihat,  17 kali dilihat hari ini

error: Content is protected !!