18 Mei 2022

Jalanan Jogja

Menyusuri Jalanan Jogja

Keris sabuk inten dengan 11 lekuk yang menjadi masterpiece Museum Sejarah Purbakala Pleret.

Museum dengan Masterpiece Keris Sabuk Inten

Sepertinya kurang pas juga kalau kita menyusuri jalanan di Yogyakarta tanpa mengunjungi tempat dolan atau lebih kerennya berwisata. Yogyakarta memiliki puluhan, bahkan mungkin ratusan tempat yang bisa kamu kunjungi untuk dolan.

Mungkin tidak ada jenis wisata yang tidak ada di Yogyakarta. Mulai dari wisata alam di dataran tinggi, wisata budaya, museum, hingga wisata bermain air di laut. Khusus untuk wisata pantai, sebaiknya kamu lebih berhati-hati. Sebab seluruh pantai yang ada di Yogyakarta adalah pantai selatan.

Tahu kan gimana  ganasnya ombak pantai selatan Jawa? Kalau kamu bilang ombaknya nggak seganas guru paling killer di sekolahmu saat marah, kamu salah besar. Tapi kalau kamu bilang nggak seganas pacar kamu saat cemburu ngelihat kamu jalan sama orang lain, aku nggak tahu.

Sayangnya kali ini kita bukan mau menyusuri jalanan ke arah pantai. Memang arahnya sama-sama ke sebelah selatan Kota Yogyakarta. Tapi jangan cemberut dulu. Meskipun kita bukan dolan ke pantai, lokasi ini nggak kalah menarik. Kita ke museum.

Eits, jangan ngakak dulu. Emangnya nggak boleh apa anak muda dolan ke museum? Museum memang sering berhubungan dengan cerita masa lalu, tapi nggak harus baper kan? museum ini, namanya Museum Sejarah Purbakala Pleret, kamu bakal nemuin sesuatu yang unik. Nah, dari namanya saja kita sudah bisa nebak kalau isinya pasti berhubungan dengan purbakala. Kali saja ketemu Flinstone di situ hahaha.

Museum ini letaknya sekitar 13 kilometer dari Tugu Pal Putih atau Tugu Jogja, itu yang di dekat penjual tembakau legendaris. Kalau naik motor, kita bisa tiba dalam waktu sekitar 30 menitan.

Benda dari Berbagai Zaman

Di sini kamu bisa ngelihat bermacam benda peninggalan sejak zaman prasejarah hingga zaman kemerdekaan Indonesia, mulai dari peralatan manusia prasejarah seperti kapak hingga keris temuan di sekitar situs cagar budaya di sekitar Pleret.

Penyimpanan keris itu di dalam semacam etalase kaca. Kalau lampu penerangannya menyala, ada efek-efek cahaya yang membuat keris itu seperti menyala merah, lebih merah dari bibirnya setelah memakai lipstik. Efek selanjutnya, ada semacam asap putih yang terlihat menyelimuti keris yang saat ditemukan hanya berupa wilahan atau bilahnya saja.

Salah satu arca koleksi Museum Sejarah Purbakala Pleret.

Keris itu jenisnya keris sabuk inten dengan jumlah lekukan atau luk sebanyak 11 luk. Keris yang menjadi masterpiece museum ini menjadi koleksi sejak penemuannya tahun 2010, saat ekskavasi atau penggalian di situs cagar budaya Kauman Pleret. Situs itu dulunya adalah masjid besar Keraton Pleret.

Jangan cuma ngangguk-angguk. Emangnya kamu tahu Keraton Plered itu apa? Keraton Plered itu keraton Kerajaan Mataram Islam setelah pindah dari Kotagede ke Kerto. Setelah pindah ke Plered, keraton Mataram Islam pindah lagi ke Kartasura, lalu pindah ke Surakarta. Nah, setelah ada perjanjian Gianti, Kerajaan Mataram Islam terbagi menjadi dua, yaitu Surakarta dan Yogyakarta.

Di dalam ruangan itu kamu juga bisa melihat langsung sejumlah benda kuno. Ada arca yang sebagian tidak lagi utuh, ada perabot dari batu, perhiasan, pokoknya macam-macamlah.

Museum Sejarah Purbakala Pleret berdiri tahun 2004. Waktu itu fungsinya belum sebagai museum, tetapi sekadar menjadi tempat untuk menyimpan benda-benda kuno yang ditemukan di sekitar Bantul. Kemudian mulai dibuka untuk umum pada tahun 2014.

Sebagian besar barang-barang yang jadi koleksi museum itu berupa perabot dari batu, termasuk jaladuara. Pasti kamu nggak ngerti kan jaladuara itu apa. Jaladuara itu semacam ornamen yang ada di saluran air. Bentuknya berupa patung binatang yang pada moncongnya sengaja diberi lubang sebagai tempat air memancur. Penggunaan dan penempatan jaladuara biasanya di petirtaan atau permandian.

Di situ juga ada koleksi barang lain yang merupakan sisa-sisa Pabrik Gula Kedaton Plered pada zaman kolonial. Mulai dari bekas mesin hingga komponen-komponen dari logam yang sudah tidak utuh lagi.

 339 kali dilihat,  3 kali dilihat hari ini

error: Content is protected !!