17 Mei 2022

Jalanan Jogja

Menyusuri Jalanan Jogja

Seorang wisatawan berjalan menaiki tangga di Sumur Gumuling, kawasan Tamansari Jogja.

Seorang wisatawan berjalan menaiki tangga di Sumur Gumuling, kawasan Tamansari Jogja.

Runtuhnya Keindahan Tamansari Jogja, Sekelumit Potongan Sejarah

JALANAN JOGJA – Runtuhnya keindahan Tamansari Jogja di masa lalu menjadi bagian dari sejarah. Seperti juga Jogja, yang tak bisa dipisahkan dengan sejarah dan budaya.

Kali ini kita menyusuri jalanan Jogja untuk dolan ke Tamansari, yang letaknya hanya beberapa ratus meter dari kawasan Keraton Yogyakarta.

Keraton dibangun pada masa awal keberadaan Kesultanan Yogyakarta. Selain keraton, Tamansari juga menjadi bangunan yang berdiri pada awal Kesultanan Yogyakarta.

Tamansari, kompleks taman dan pemandian seluas 1,26 hektare ini berdiri di atas sebuah umbul (mata air) yang dikenal dengan nama Umbul Pacethokan.

Pembangunan tamansari memakan waktu selama hampir delapan tahun, dari tahun 1757 hingga 1765.

Proses pembangunan Tamansari ini juga menyebabkan pembangunan Benteng Vredeburg, benteng permintaan pemerintah kolonial pada Kesultanan Yogyakarta, menjadi tertunda-tunda.

Sebagian orang meyakini bahwa Sri Sultan Hamengku Buwono I sengaja mengulur waktu dalam pembangunan Tamansari ini.

Keelokan Tamansari kala itu sangat termahsyur. Bahkan Sir Thomas Stamford Raffles, Letnan Gubernur Inggris di Jawa antara tahun 1811 sampai tahun 1816 sangat tertarik.

Melansir laman resmi Keraton Yogyakarta, dalam catatannya, Raffles menyebut ia sangat ingin menguasai Jawa, terutama karena ingin menaklukkan Sultan Mataram dan menguasai istananya yang ia dengar memiliki Istana Air yang megah.

Raffles pun secara khusus meminta pada prajuritnya untuk membuat sketsa Tamansari ketika nantinya pasukan Inggris memasuki Yogyakarta.

Runtuhnya Keindahan Tamansari

Sayangnya, keindahan Tamansari Jogja tidak bertahan lama. Hanya beberapa tahun sejak pembangunan selesai, tepatnya 7 September 1803, gempa bumi akibat letusan Gunung Guntur di Jawa Barat  mengakibatkan pondasi Tamansari rusak.

Seorang wisatawan melihat ke luar jendela di Sumur Gumuling, Tamansari Jogja.

Pemandian dan segaran (danau buatan) Tamansari kering karena airnya merembes akibat kerusakan yang timbul dari gempa bumi.

Baca juga: Suara Musik di Makam Tabib The Tjin Pok

Upaya perbaikan pun dilakukan. Menurut laporan Matthijs Waterloo, Sri Sultan Hamengku Buwono II telah kembali bersampan di Tamansari sebulan setelahnya.

Namun, sekitar sembilan tahun kemudian, Tamansari mengalami kerusakan dalam skala besar, yakni saat Inggris melakukan agresi ke Yogyakarta pada 1812.

Tamansari yang saat itu juga digunakan sebagai bengkel senjata dan mesiu keraton, turut menjadi sasaran.

Tamansari mulai terabaikan sejak kekalahan Yogyakarta dalam perang tersebut. Keadaan keraton terlalu kacau untuk memungkinkan sultan dan keluarganya berekreasi.

Keadaan ini berlanjut saat Perang Diponegoro pada tahun 1825-1830.

Kerusakan Tamansari semakin parah saat gempa bumi kembali terjadi di Jogja pada tanggal 10 Juni 1867.

Kala itu ratusan bangunan rusak, termasuk sejumlah bangunan di Tamansari. Kompleks megah menjadi puing-puing.

Perbaikan Tamansari Jogja

Pada tahun 1942, Jawatan Purbakala Hindia Belanda  sudah memulai penelitian dan penggalian sisa Tamansari. Runtuhnya keindahan Tamansari Jogja mulai akan perbaiki, agar kembali memesona.

Namun penelitian ini terhenti ketika pasukan Jepang masuk dan mengusir pemerintah Belanda, dan Tamansari kembali terabaikan.

Banyaknya warga yang menderita saat pendudukan Jepang menyebabkan mereka mengungsi ke dalam wilayah benteng keraton.

Atas rasa kemanusiaan, Sri Sultan Hamengku Buwono IX membiarkan mereka membangun pemukiman di atas puing-puing Tamansari.

Sejumlah pengunjung Tamansari Jogja berfoto di salah satu lokasi di kawasan Tamansari.

Mungkin seperti hati ini, pecah dan menjadi puing-puing saat kau menghilang.

Pelaksanaan renovasi Tamansari mulai secara serius pada tahun 1977 oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya. Sejumlah bangunan yang tertimbun dibongkar. Sayangnya hanya sebagian bangunan Tamansari yang bisa terselamatkan.

Pada tahun 2004, proses perbaikan bangunan Tamansari melibatkan Colouse Goulbenklan Foundation dari Portugal.

Portugal mengirim seorang arsiteknya, Joao Campos, untuk membantu proses perbaikan di Tamansari.

Pengerjaan perbaikan sangat hati-hati, misalnya proses pencampuran semen, yang harus dengan cara tradisional, karena khawatir alat berat memperparah kerusakan bangunan.

Perbaikan yang mulai sejak Januari 2004 hingga tanggal 19 Maret 2004 ini masih belum sepenuhnya selesai.

Proyek ini sendiri fokus pada bangunan-bangunan bergaya Portugis. Fokus utama pada Umbul Binangun.

Pada tahun ini pula Tamansari dinyatakan sebagai salah satu dari 100 Warisan Budaya Dunia, sehingga World Monument Fund ikut terlibat.

Namun, lagi-lagi Tamansari yang sedang dalam perbaikan harus kembali rusak saat gempa bumi terjadi pada tahun 2006.

Baca juga: Mblusuk ke Kompleks Makam Nyai Melati di Kotagede

Pelaksanaan proses renovasi pun mulai kembali. Pada tahun ini pula, Pulo Kenanga mulai tersentuh perbaikan.

Pada tahun 2016, Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta kembali memulai pemugaran kawasan Tamansari. Perbaikan kali ini fokus pada kompleks bangunan Garjitowati.

Beberapa bangunan kampung harus pindah karena keberadaannya tepat di atas kompleks Garjitowati.

 1,379 kali dilihat,  13 kali dilihat hari ini

error: Content is protected !!