Sumur Raksasa Peninggalan Belanda di Klaten

Bagikan

Sumur raksasa peninggalan zaman penjajahan Belanda berdiri di tengah lahan di Desa Jotangan, Kecamatan Bayat, Kecamatan Klaten, Jawa Tengah. Menyusuri jalanan kali ini sepertinya mblusuk agak jauh ke arah timur. Bukan lagi berada di wilayah Jogja.

Lokasi itu tampak sunyi. Hanya sumur raksasa dengan diameter sekitar 10 meter berkedalaman sekitar 15 meter yang terlihat jelas dari tepi jalan. Meski tampak besar dan dalam, itu belum sebanding dengan perasaanku padamu.

Puluhan atau mungkin ratusan pohon berukuran cukup tinggi berdiri di sekitar sumur itu, mampu sedikit meneduhkan dari terpaan sinar matahari siang yang cukup panas.

Sumur raksasa berdiri di tengah lahan di Desa Jotangan, Kecamatan Bayat, Kecamatan Klaten, Jawa Tengah.

Pagar bambu yang menjadi pengaman tampak mengelilingi separuh sumur, namun ada sedikit celah untuk bisa masuk ke area sumur.

Menurut beberapa sumber, termasuk seorang warga setempat, sumur itu sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Selain ukuran diameternya yang berkali-kali lipat dari sumur biasanya, di dasar sumur ini juga mengalir semacam saluran air berbentuk menyerpai sungai kecil.

Saluran air yang mengalir itulah yang menjadi sumber air di sumur tersebut. Air pada saluran itu mengalir dari Rawa Jombor, yang terletak tidak terlalu jauh dari Sumur Tirta Mili, begitu warga setempat memberinya nama.

Awalnya, warga akan memberi nama sumur raksasa itu dengan Sumur Netherland, namun kemudian berubah menjadi Tirta Mili, yang artinya air yang mengalir.

Warga setempat juga sempat berniat menjadikan sumur raksasa itu sebagai salah satu obyek wisata, terlebih lokasinya cukup dekat dengan obyek wisata lain di Klaten, yakni Rawa Jombor.

Seorang pengunjung menengok ke dalam sumur raksasa di Desa Jotangan, Kecamatan Bayat, Kecamatan Klaten, Jawa Tengah

Namun, rencana itu terpaksa tertunda hingga waktu yang tidak pasti. Penyebabnya, selain pandemi yang sedang melanda, juga akibat kurangnya pendanaan. Padahal beberapa upaya sudah terlaksana, seperti memagari sumur dengan batang bambu, serta menanam sejumlah tanaman hias di area sumur.

5 Sumur Raksasa

Sumur raksasa peninggalan Belanda di sekitar tempat itu bukan hanya satu, melainkan ada lima sumur. Dari kelimanya, tiga sumur berada di wilayah Desa Jotangan, sementara dua sumur lainnya terletak di wilayah Desa Krakitan yang lebih dekat ke Rawa Jombor.

Dari kelima sumur yang ada, Sumur Tirto Mili merupakan sumur dengan diameter terbesar. Saluran air yang mengalir di dasar sumur menghubungkan kelima sumur itu, kemudian menembus perbukitan hingga di lahan perkebunan tebu untuk pabrik gula di wilayah itu.

Sumber lain menyebutkan bahwa pembangunan sumur raksasa itu mulai sekitar tahun 1910, dan berhasil menembus perbukitan pada sekitar tahun 1924. Saluran air yang ada di dasar sumur juga disebut cukup lebar, dan sudah ada beberapa orang yang mencoba memasukinya. Mereka masuk dari pintu awal saluran di Rawa Jombor.

Biasanya, orang-orang memasuki saluran air itu untuk mencari ikan. Lebar saluran air tersebut sekitar 1,5 meter, bahkan semakin jauh ke dalam, ukurannya semakin lebar. Tapi, ada waktu-waktu tertentu orang tidak berani memasuki saluran air tersebut, yakni kala musim hujan tiba. Sebab aliran airnya cukup deras.

Dasar sumur raksasa di Desa Jotangan, Kecamatan Bayat, Kecamatan Klaten, Jawa Tengah.

Terlepas dari keunikannya, sumur raksasa itu cukup instagramabel dan bagus dijadikan sebagai latar swafoto. Tapi, sebaiknya jangan berswafoto dengan latar belakang dasar sumur. Sebab bagian dalam dinding sumur ditumbuhi tumbuhan liar.

 296 kali dilihat,  2 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!