21 Mei 2022

Jalanan Jogja

Menyusuri Jalanan Jogja

Penjual Mie Ayam Bule di Gejayan

Penjual mie ayam bule mungkin kesannya sedikit unik, karena biasanya penjual mie ayam adalah warga lokal.

JALANANJOGJA.COM – Penjual mie ayam bule mungkin kesannya sedikit unik, karena biasanya penjual mie ayam adalah warga lokal.

Kamu kalau habis blusukan dan menyusuri jalanan sering lapar nggak sih? Kalau aku sih sering banget ngerasa lapar sehabis mblusuk-mblusuk alias kelayapan keluar masuk gang, apalagi kalau paginya belum sempat sarapan.

Tenang saja, selama kamu masih ada di wilayah Yogyakarta, walaupun kamu mblusuk-mblusuk, kemungkinan keblasuk kesasar sangat kecil, apalagi kalau kamu sopan bertanya pada warga, mereka dengan antusias bakal nunjukin arah. Terlebih kalau baterai ponselmu masih banyak dan kuota internetmu unlimited, kamu tinggal buka peta :D.

Begitu juga kalau kamu mulai lapar dan lelah, butuh bahu buat bersandar, eh, butuh asupan makanan. Cukup banyak warung-warung makan murah meriah di kawasan Yogyakarta. Kalau mau yang segar, warung soto cukup banyak di pinggir jalan. Kalau mau yang khas, penjual lotek dan tahu guling juga banyak. Intinya, hampir semua jenis makanan bisa kamu dapati di Jogja.

Bahkan kalau kamu ingin sekali-kali merasakan dilayani oleh penjual makanan yang orang bule, bisa. Sekitar empat kilometer dari Tugu Yogyakarta, di kawasan Gejayan, tepatnya di Jl Moses Gatutkaca, ada warung mie ayam bakso yang namanya Warung Mie Ayam Bakso Telolet.

Nah lho, pasti kamu jadi ingat kebiasaanmu waktu di kampung, kan? Pasti kamu langsung ingat teriakanmu ke pengemudi mobil atau truk terus teriak, “Om, telolet, Om.”

Di Warung Mie Ayam Bakso Telolet ini kamu bisa mewujudkan impianmu makan di warung dengan pelayanan seorang bule. Sebab pemilik warung itu seorang wanita asal negeri kincir angin, Belanda.

Harga Sangat Terjangkau

Walaupun pemiliknya adalah seorang bule Belanda, tapi jangan khawatir kamu bakal membayar mahal untuk seporsi mie ayam atau bakso. Pemilik warung yang juga memiliki biro perjalanan wisata ini mematok harga yang sangat terjangkau untuk masakannya. Bayangkan, hanya dengan Rp7 ribu kamu sudah bisa menikmati mie ayam dan melihat langsung cara bule memasaknya.

Kata Arya, suami si bule, dia dan sang istri memang sengaja mematok harga terjangkau, mengingat kondisi sebagian orang memang sedang susah akibat pandemi.

“Harga yang miring karena prinsipnya istri saya, kan ini lagi pandemi, jadi semua orang sedang susah, makanya harganya juga kita kasih miring supaya terjangkau.”

Kamu juga tidak perlu risau dengan rasa masakannya, sejumlah pengunjung yang pernah makan di warung itu memuji rasa masakan sang bule, termasuk aku tentu saja. Kalau kamu berminat mencicipi masakannya, sebaiknya datang saat pagi. Sebab saat hari mulai siang, biasanya pengunjung warung cukup membludak.

Rasa mie ayam yang gurih dan mantap itu bukan kebetulan. Sang pemilik warung memiliki resep khusus dalam membuat mie ayam dan baksonya. Mereka memadukan resep mie ayam Bangka dalam mie buatannya.

Selain rasa bumbunya yang pas, ukuran mie untuk bakso dan mie ayam pun tidak terlalu tebal atau terlalu tipis. Kekenyalannya juga sangat pas di mulut.

Oh iya, lokasi tempat warung itu berdiri dulunya adalah garasi dan tempat menginap karyawan biro perjalanan wisata miliknya. Tapi, saat pandemi menyerang, sebagian karyawannya memilih pulang, sebab wisatawan juga berkurang.

Akhirnya garasi itu dibiarkan kosong sampai mereka memiliki ide untuk membuka warung mie ayam bakso.

“Orang pulang jadinya kosong dan tidak dipakai. Akhirnya suami usulkan bikin warung mie ayam lagi. Kebetulan suami saya suka bakso dan saya suka mie ayam.  Jadinya bakso mie ayam.”

 632 kali dilihat,  3 kali dilihat hari ini

error: Content is protected !!