20 September 2022

Jalanan Jogja

Menyusuri Jalanan Jogja

Denah lokasi Masjid Pathok Negara. Sumber: Tephas Tanda Yekti via Kratonjogja.id

Denah lokasi Masjid Pathok Negara. Sumber: Tephas Tanda Yekti via Kratonjogja.id

4 Masjid Pathok Negara di Jogja, Berdiri Sejak Tahun 1700an

JALANANJOGJA.COM – Masjid Pathok Negara atau Pathok Negoro berjumlah empat unit, dan merupakan milik Keraton Yogyakarta, yang usianya mencapai ratusan tahun.

Selain Masjid Gedhe di pusat pemerintahan, Kasultanan Yogyakarta juga membangun masjid di empat penjuru mata angin, yakni Masjid Pathok Negara.

Patok memiliki arti sesuatu yang ditancapkan sebagai batas atau penanda. Namun, dapat juga berarti aturan, pedoman ,atau dasar hukum.

Sehingga secara arti,  pathok negara adalah batas wilayah negara atau pedoman bagi pemerintahan negara.

Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, masjid pathok negara juga berfungsi sebagai pusat pendidikan, bagian dari sistem pertahanan, sekaligus bagian dari sistem peradilan agama.

Pengadilan ini memutus hukum perkara pernikahan, perceraian atau pembagian waris.

Keempatnya yakni Masjid Jami’ An-nur di Mlangi (Barat), Masjid Jami’ Sulthoni di Plosokuning (Utara).

Selanjutnya, Masjid Jami’ Ad-Darojat di Babadan (Timur), dan Masjid Nurul Huda di Dongkelan (Selatan).

Pembangunan keempat masjid tersebut dilaksanakan pada era Sri Sultan Hamengku Buwono I.

4 Masjid Pathok Negara

Masjid Pathok Negara Jami’ An-Nur di Mlangi

Pembangunan masjid ini oleh oleh BPH Sandiyo, atau Kyai Nur Iman, yang merupakan saudara Sri Sultan Hamengku Buwono I, putra Raja Mataram, Susuhunan Amangkurat IV.

Pada tahun 1758, Sri Sultan HB I menghadiahi tanah perdikan kepada Kyai Nur Iman, yang kemudian memanfaatkannya untuk lahan masjid.

Luas lahan masjid ini sekitar 1000 meter persegi, dengan bangunan utama seluas 20 x 20 meter persegi, serambi seluas 12 x 20 meter persegi.

Selain itu juga terdapat ruang perpustakaan seluas 7 x 7 meter persegi, dan halaman seluas 500 meter persegi.

Awalnya masjid ini memiliki 16 tiang utama dari kayu jati, yang terdiri dari 4 saka guru dan 12 saka penanggep.

Kini Masjid Mlangi dikelola sepenuhnya oleh masyarakat, tetapi keraton masih menempatkan Abdi Dalem sebagai penanda bahwa masjid tersebut adalah Kagungan Dalem.

Masjid Jami Sulthoni Plosokuning

Menurut salah satu pengurus takmir, sebenarnya masjid ini berdiri sebelum keraton dibangun. Lokasinya di Plosokuning, Mlangi.

Pendirinya adalah Kyai Mursodo, anak dari Kyai Nur Iman Mlangi, dengan posisi di sebelah selatan bangunan yang ada saat ini.

Mengutip laman kratonjogja.id, Sri Sultan Hamengku Buwono I memindahkan lokasi Masjid Plosokuning sesaat setelah membangun keraton dan Masjid Gedhe.

Arsitektur bangunannya mengikuti bentuk dari Masjid Gedhe. Hal ini terlihat dari model atap tumpang dan mustaka di atasnya.

Baca juga: Tradisi Jelang Bulan Ramadan Keraton Jogja, Ziarah Kuthomoro

Hanya saja jika Masjid Gedhe terdiri dari tiga tumpang, maka Masjid Plosokuning ini hanya terdapat dua tumpang sama seperti pada Masjid Pathok Negara lainnya.

Masjid Jami’ Sulthoni Plosokuning termasuk yang terjaga keasliannya, dengan keberadaan kolam yang mengelilingi masjid.

Di kolam ini orang-orang membasuh kaki dan membersihkan diri sebelum memasuki masjid.

Nurul Huda Dongkelan

Masjid Pathok Negara selanjutnya terletak di wilayah Kauman, Dongkelan, tepatnya di Desa Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Masjid yang pembangunanya sejak tahun 1775 ini memiliki peran sebagai sistem pertahanan di masa perlawanan Pangeran Diponegoro.

Bangunannya sempat ludes dibakar oleh Belanda karena dianggap sebagai tempat berkumpulnya para pejuang pengikut Pangeran Diponegoro.

Bangunan awal masjid ini beratapkan ijuk. Ciri utama sebagai Masjid Pathok Negara terletak di mustaka tanah liatnya.

Mustaka tersebut kini tidak lagi berada di atap masjid, namun disimpan dalam kotak kaca. Mustaka ini pula yang tersisa dari bangunan ini ketika ludes dibakar Belanda.

Masjid Jami’ Ad-Darojat Babadan

Masjid ini terletak di Babadan, Bantul, pembangunannya mulai Tahun 1774 di atas tanah seluas 120 meter persegi.

Bangunan ruang utamanya menggunakan konstruksi tajug dengan empat saka guru.

Di sampingnya terdapat pawestren, ruang yang diperuntukkan khusus bagi jamaah wanita. Serambi masjid berbentuk limasan serta dilengkapi juga dengan kolam sebagai tempat bersuci.

Mustaka tanah liat yang menjadi ciri khas Masjid Pathok Negara juga terdapat di sini. Meskipun pada tahun 2003 diganti dengan mustaka kuningan, mustaka asli masih disimpan dan dipelihara.

 24,279 kali dilihat,  9 kali dilihat hari ini

error: Content is protected !!