20 September 2022

Jalanan Jogja

Menyusuri Jalanan Jogja

Bukti pernah ke Jogja, tak jarang wisatawan berfoto di sejumlah tempat. Foto: jalanan Jogja

Bukti pernah ke Jogja, tak jarang wisatawan berfoto di sejumlah tempat. Foto: jalanan Jogja

Bukti Pernah ke Jogja, 5 Tempat Ini Sering Jadi Lokasi Swafoto

Bukti pernah ke Jogja, biasanya wisatawan atau pengunjung dari luar kota akan mengunggah foto mereka di sejumlah tempat.

JALANANJOGJA.COM – Bukti pernah ke Jogja, biasanya wisatawan dari luar kota akan mengunggah foto mereka di sejumlah tempat khas Jogja, termasuk papan nama jalan Malioboro.

Di Jogja, ada beberapa tempat yang seperti menjadi lokasi wajib foto buat wisatawan, semacam bukti autentiklah.

Tempat-tempat berswafoto tersebut sebagian memang hanya ada di Jogja, dan terletak tidak jauh dari titik nol kilometer atau Malioboro.

Berikut sejumlah tempat yang sering menjadi latar belakang swafoto wisatawan, sekaligus menjadi semacam bukti autentik bahwa pernah menginjakkan kaki di kota ini.

Bukti Pernah ke Jogja

Papan Nama Jalan Malioboro

Papan nama jalan ini menjadi salah satu lokasi berfoto para wisatawan. Papan nama jalan itu terletak di ujung utara kawasan Malioboro.

Kalau berniat untuk foto bareng papan nama ini, kamu bisa berjalan kaki dari kawasan titik nol menuju ke utara.

Atau, kalau kamu berkunjung ke Jogja menggunakan kereta api dan turun di Stasiun Tugu, kamu hanya harus berjalan beberapa ratus meter ke arah timur pintu keluar stasiun, menyusuri Jalan Pasar Kembang.

Saat hari libur, biasanya cukup banyak wisatawan yang mengantre hanya untuk bisa berfoto bareng papan nama Jalan Malioboro.

Tak jarang antrean mengular hingga hampir ke tengah jalan, dan tentunya kamu harus sabar menunggu.

Benteng Vredeburg

Lokasi foto lain yang menjadi bukti autentik bahwa kamu pernah berkunjung ke Jogja adalah Benteng Vredeburg.

Benteng ini terletak sekitar 100 meter dari titik nol kilometer Jogja, tepat di sebelah utara Kantor Pos Besar Yogyakarta.

Pintu masuk utama Museum Benteng Vredeburg. Foto: Jalanan Jogja.

Wisatawan biasanya berfoto dengan latar belakang pintu masuk utama Museum Benteng Vredeburg yang di atasnya tertulis nama benteng itu.

Tak jarang, setelah berfoto, para wisatawan sekaligus mengunjungi museum dan melihat beragam benda bersejarah koleksi museum, serta diorama yang menceritakan tentang perjuangan Bangsa Indonesia.

Bukti Pernah ke Jogja dengan Foto di Tugu Pal Putih

Tugu Pal Putih juga terkenal dengan nama Tugu Jogja. Letaknya sekitar 700 meter ke arah utara Stasiun Tugu.

Tugu Pal Putih juga berada pada garis lurus imajiner yang menghubungkan Gunung Merapi, Keraton Yogyakarta, Panggung Krapyak, dan Pantai Parangkusumo.

Garis imajiner ini membentang dari utara ke selatan.

Awalnya, Tugu Pal Putih bernama Tugu Golong Gilig, yang dibangun pada tahun 1756 sebagai simbol persatuan rakyat dengan rajanya atau pemimpinnya.

Tugu Golong GIlig dulunya berbentuk silinder (golong) dengan puncak berupa bulatan (gilig).

Namun, pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VI (1855-1877), tepatnya tanggal 10 Juni 1867 (4 Sapar Tahun 1796 J), gempa bumi besar di Yogyakarta meruntuhkannya.

Mengutip laman resmi Keraton Yogyakarta, pilar tugu patah kurang lebih sepertiga bagian.

Peristiwa ini dikenang dalam candra sengkala yang berbunyi Obah Trus Pitung Bumi (tujuh bumi terus berguncang), menunjuk pada angka 1796 tahun Jawa.

Pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII (1877-1921), tugu ini dibangun kembali dan diresmikan pada tanggal 3 Oktober 1889.

Namun, bentuknya berubah dari bentuk awal. Tuhgu yang semula berbentuk golong dan gilig, menjadi berbentuk persegi dan berujung lancip.

Selain itu ketinggian tugu yang semula 25 meter menjadi 15 meter saja.

Keraton Yogyakarta

Keraton Yogyakarta juga menjadi salah satu lokasi berswafoto untuk membuktikan bahwa wisatawan pernah berkunjung ke Jogja.

Keraton Yogyakarta. Foto: Jalanan Jogja

Dulu, wisatawan sering berswafoto dari arah Alun-alun Utara, dengan latar belakang bagian Sti Hinggil keraton.

Namun, saat ini sebagian mereka memilih untuk berswafoto dari Siti Hinggil, dengan latar belakang alun-alaun dan kawasan Malioboro.

Kawasan Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan bangunan cagar budaya, yang terdiri dari serangkaian ruang dan bangunan yang memiliki nama, fungsi, pelingkup serta vegetasi tertentu.

Serangkaian ruang-ruang terbuka di dalam keraton disebut plataran. Setiap plataran dihubungkan dengan regol atau gerbang yang merupakan pembatas antara plataran satu dengan yang lainnya.

Sumur Gumuling Tamansari

Sumur Gumuling merupakan bagian dari Tamansari. Sedangkan Tamansari adalah lokasi permandian keluarga kerajaan.

Sumur Gumuling memiliki bentuk yang unik. Dari luar Sumur Gumuling tampak sebagai menara bulat di tengah air.

Dulunya bangunan ini berfungsi sebagai masjid dan hanya bisa dicapai melalui terowongan bawah air, atau disebut urung-urung.

Di Sumur Gumuling terdapat dua lantai yang masing-masing memiliki ceruk di dinding yang berfungsi sebagai mihrab atau tempat imam memimpin ibadah.

Di pusat bangunan ini terdapat empat undakan atau anak tangga, yang bertemu di tengah. Kemudian dari titik temu tersebut, juga terdapat satu undakan untuk naik ke lantai dua.

Tepat di bawah titik temu, terdapat semacam kolam kecil yang dulunya untuk berwudu.

 931 kali dilihat,  3 kali dilihat hari ini

error: Content is protected !!