21 Mei 2022

Jalanan Jogja

Menyusuri Jalanan Jogja

Ilustrasi Jogja tidak Selalu Manis.

Ilustrasi Jogja. Foto: Jalanan Jogja

Jogja tidak Selalu Manis, tapi Kenangannya Bikin Kangen

JALANANJOGJA.COM – Jogja tidak selalu manis, setidaknya untuk aku sendiri, yang lahir dan besar di kota ini (meski kemudian meninggalkan Jogja dan kembali lagi), tapi kenangan di Jogja bikin kangen.

Sebagai produk asli Jogja, tidak heran kalau cukup banyak tempat pernah terjelajahi sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.

Mulai dari mencari cethul (ikan kecil) di Kali Code sekitar Jagalan Beji, sampai cari jingking (semacam kepiting berukuran kecil) di kawasan pantai laut selatan.

Kadang juga nyolong tebu di sekitaran Madukismo (seperti sebagian anak-anak lain), hingga cari mengejar gabulan alias layang-layang putus keluar masuk lorong.

Waktu pun berlalu, seperti pagi yang tetiba berubah menjadi senja. Jogja masih sangat bersahabat kala itu, menemani masa remaja di SMA.

Layaknya beberapa siswa SMA lain, membolos jadi semacam keharusan. Setidaknya di kelompok anak-anak satu genk.

Janji ketemuan lewat WA? Jangankan WA, waktu itu telepon pun masih pakai telepon umum koin yang ada di sudut jalan masuk ke sekolah.

Eh, sesekali juga teleponan pakai kartu telepon magnetik yang akan berlubang saat pulsanya habis. Itu pun kalau punya duit buat beli kartu, atau ada teman yang bisa ngisi ulang.

Jadi, waktu itu kita janjiannya sehari sebelum membolos. Biasanya kita bikin beberapa rencana, untuk mengantisipasi jika plan A gagal.

Merencanakan bolos pun nggak di sembarang tempat. Kadang di kantin belakang sekolah, tapi lebih sering di warung di pinggir jalan, tepat di belakang kita tunggu bis kota Jalur 15.

Biasanya ini, kita planning ketemuan di sekitar Senisono, tidak jauh dari titik nol kilometer Jogja, tepatnya di sebelah selatan Gedung Agung.

Jam ketemuannya pun tidak tanggung-tanggung, jam tujuh tit sudah harus ada di lokasi, seperti umumnya jam masuk sekolah.

Selain untuk mengelabuhi orang rumah, ketemuan pagi juga memungkinkan anak-anak sedikit bandel ini untuk mengubah rencana.

Jogja tidak Selalu Manis, Kadang Menggelitik

Keseruan sering kali berawal di titik kumpul. Mulai dari sembunyi agar teman lain atau guru tidak melihat, hingga menyesuaikan uang jajan dengan tempat yang bakal kami datangi.

Nah, setelah semua kumpul, selanjutnya nongkrong dulu di kawasan Malioboro, atau berjalan dari selatan ke utara, sambil nunggu pertokoan buka.

Kadang kita harus sembunyi lagi kalau ketemu sama petugas. Waktu itu sudah sering ada razia anak bolos sekolah. Nggak manis banget kan ya?

Minimal dua jam kemudian, barulah kita cari bus kota untuk menuju ke lokasi selanjutnya. Dulu ada beberapa bus yang bisa jadi pilihan, ada Aspada, Kopata, Damri, dan Puskopkar.

Paling sering sih kita jalan ke sebelah barat Pojok Beteng Wetan, di sana ada tempat main biliar yang bukanya jam sembilan pagi.

Si mbak penjaganya sampai hafal sama kita, karena sering jadi pelanggan pertama.

Karena kita cuma ngandalkan uang jajan dari orang tua, tentu saja harus menyesuaikan uang yang ada untuk bayar koin, atau sistem kalah bayar. Jadi, yang kalah bayar koin sesuai jumlah kekalahan.

Kalau keasyikan main, sering kali sistem kalah bayarnya batal. Karena nggak jarang orang yang kalah duitnya tidak cukup untuk bayar. Akhirnya kita patungan. Ngeselin kan? Nggak manis lagi, kan?

Sekitar jam satu siang, kita sudah pasti selesai main, karena selain duitnya nggak cukup lagi, jam segitu adalah jam pulang sekolah. Nggak mau dong telat pulang sekolah gegara bolos.

Momen tidak Manis

Bener kan, Jogja nggak selalu manis, paling tidak saat peristiwa menyebalkan terjadi (walaupun kelak kenangan itu jadi sesuatu yang manis).

Meski beberapa kali mengalami hal yang tidak manis di kota ini, saat berada ratusan kilometer dari Jogja, semua kenangan menjadi manis. Iya, semuanya, kecuali kehilanganmu.

Baca juga: Bukti Pernah ke Jogja, 5 Tempat Ini Sering Jadi Lokasi Swafoto

Mulai dari kena tilang saat boncengan bertiga bareng teman, waktu kejadian, itu sama sekali nggak ada manis-manisnya. Tapi, saat terkenang, itu jadi sesuatu yang lucu (nggak manis juga sih).

Ngamen di perempatan jalan atau di atas bus Jogja-Semarang pun pastinya bukan hal yang manis saat itu.

Terus, dikejar anjing waktu jalan-jalan pagi, tidur di dekat kandang ayam yang baunya nauzubillah, dikejar penjaga sekolah saat kabur salat Jumat, pokoknya banyak deh yang dulu sama sekali nggak manis.

Mungkin kamu nggak percaya, tapi menurutku sekarang, apa pun tentang Jogja selalu manis. Bisa jadi kamu juga bakal merasakan hal yang sama setelah dolan ke Jogja.

 220 kali dilihat,  3 kali dilihat hari ini

error: Content is protected !!