18 Mei 2022

Jalanan Jogja

Menyusuri Jalanan Jogja

Ilustrasi jalanan tanah.

Ilustrasi jalanan. Foto: Pixabay.com

Klitih Identik dengan Kekerasan? Dulu Tidak Begitu

JALANANJOGJA.COM – Klitih identik dengan kekerasan? Kok bisa? Akhir-akhir ini orang kerap menyebut kejahatan jalanan, bahkan menyebut pembacokan sebagai klitih.

Entah dari mana pengartian itu. Tapi, menurutku mengartikan klitih sebagai kejahatan jalanan atau kekerasan adalah sebuah salah kaprah, yang entah berasal dari mana.

Dulu, belasan hingga sekitar 25an tahun lalu, kata klitih juga cukup akrab di telinga, setidaknya di antara kaum-kaum gabut yang nggak tahu mau ngapain.

Tapi, waktu itu orang-orang pada tidak takut klitih. Bahkan, buat kaum gabut seperti kami dan mereka, seringkali menunggu ajakan untuk klitih.

Baca juga: Jogja Tidak Selalu Manis, tapi Kenangannya Bikin Kangen

Beda dengan waktu Opa masih muda.

Saat itu, dengerin lagu tuh pakai kaset dan tape recorder. Jadi, kalau satu kaset berisi 10 lagu, lima lagu ada di sisi A dan lima lainnya di sisi B.

Nah, kalau lagu kesukaan kita ada di sisi A, saat pengen dengar ulang, kita kudu me-rewind. Itu pun kalau tombol rewindnya masih normal. Kalo udah nggak berfungsi, terpaksa diputar balik secara manual.

Caranya, pensil atau pulpen dimasukkan ke lubang kaset, kemudian diputar sampai pita berada di posisi awal. Supaya nggak terlalu gabut, biasanya memutar kaset dilakukan sambil merokok.

Pernah nggak membayangkan gimana gabutnya memutar kembali kaset pita menggunakan pulpen atau pensil.

Apalagi kalau kasetnya yang C90 (durasi 90 menit), dan ini beneran memutar.

Biasanya sih kaset C90 itu isinya lagu campuran yang direkam dari kaset punya teman, yang suaranya bakal mleyot-mleyot atau bergelombang karena sudah keseringan diputar.

Beda dong dengan rekaman tentang senyummu yang nggak pernah mleyot-mleyot di pikiranku. Selalu terputar mulus dan jernih setiap menjelang tidur.

Nah, saat kegabutan udah mencapai level dewa, kadang kita pasrah aja. Kaset kembali dipasang ke tempatnya, terus mendengarkan lagu si sisi B.

Klitih Identik dengan Kekerasan? Enggak Banget

Kalau udah gitu, kadang ada teman yang mengajak klitih. Nglitihnya bisa ke mana aja, karena arti klitih saat itu adalah jalan-jalan tanpa tujuan yang jelas.

Intinya sekadar jalan-jalan tanpa tujuan untuk merefresh pikiran.

Jadi, nglithih bisa nongkrong di depan Gedung Agung di kawasan Malioboro. Atau, bisa juga keliling kota naik motor.

Baca juga: Rindu pada Jogja Bisa Mendera Siapa Saja, Termasuk Kamu

Atau, kalau yang tinggal agak ke pinggiran kota, nglitih bisa saja cuma jalan-jalan bareng, terus memanjat pohon mangga milik tetangga, atau nyolong timun di sawah.

Yang jelas, saat itu nglitih atau klitih bukan untuk melakukan tindak kriminal maupun kejahatan di jalanan.

Bahkan, sering kali nglithih bisa sekadar nongkrong di warung angkringan sambil ngopi dan nunggu kamu lewat.

Andai saja saat itu kamu beneran lewat. Iya, kamu, yang lagi baca status ini. Mungkin kita bisa nglitih bareng, berjalan menyusuri gang. Aku sambil mesem dan kamu pasang wajah masam.

Ah, sudahlah. Itu kan dulu. Sekarang semua berubah, termasuk pengartian klitih.

Entah sejak kapan sebagian orang mengubah arti klitih menjadi aksi kekerasan dan kejahatan jalanan. Padahal belum pernah ada amandemen klitih.

Sepertinya arti klitih memang harus dikembalikan sesuai fitrahnya. Supaya kita bisa nglitih bareng. Mau?

 7,447 kali dilihat,  70 kali dilihat hari ini

error: Content is protected !!