21 Mei 2022

Jalanan Jogja

Menyusuri Jalanan Jogja

Rindu pada Jogja

Jembatan Sayidan Jogja. Foto: Jalanan Jogja

Rindu pada Jogja Bisa Mendera Siapa Saja, Termasuk Kamu

JALANANJOGJA.COM – Rindu pada Jogja mungkin bukan cuma kamu yang merasakan, bisa jadi mereka yang pernah tinggal lama di kota ini juga memendam kangen untuk Jogja.

Bahkan, tidak menutup kemungkinan, mereka yang baru sekali menginjakkan kaki di Jogja pun merasakan rindu itu.

Atmosfer Jogja memang sangat mendukung untuk membuat orang yang pernah menjejakkan langkahnya di sini rindu kembali.

Padahal, mereka mungkin hanya beberapa belas menit atau beberapa jam di kota ini. Itu pun sekadar duduk di kursi yang ada di sepanjang Malioboro.

Atau sekadar berjalan ngalor ngidul di kawasan itu, kemudian berswafoto sambil melihat lalu lalang pengguna jalan.

Lantas, bagaimana dengan aku, kamu, dia, atau temannya, yang bertahun-tahun mengirup udara Jogja?

Atau, mereka yang sekolah, kuliah, maupun sempat bertugas di kota ini.

Tinggal bertahun-tahun di tempat ini bisa jadi memenuhi hati dan otakmu dengan kenangan.

Mulai dari bergandeng tangan menyusuri jalanan Jogja, hingga menangis tersedu di sudut kamar kos karena kehilangan.

Ya, selain menemukan, siapa pun bisa merasa kehilangan saat tinggal di sini. Termasuk kehilangan kekasih hati seperti aku dan kamu.

Lalu, terbersit niat untuk pergi dan meninggalkan Jogja. Mengatur rencana penerbangan, menyiapkan segala hal untuk lari dari kenyataan.

Saat hari itu tiba, pakaian dan segala perlengkapan sudah masuk dalam koper atau tas besar. Taksi sudah menunggu di depan rumah.

Tapi, kesedihan itu bukannya hilang. Dia mencengkeram semakin kuat, membuat tubuh semakin lemas dan pikiran semakin tak karuan.

Niat melarikan diri dari kenyataan, melupakan kehilangan, justru menambah beban. Bukannya menemukan sesuatu, tapi semakin kehilangan.

Ya, meninggalkan kota ini justru lebih menyakitkan, karena bertahun kemudian, hati, pikiran, dan langkah, selalu ingin kembali ke Jogja.

Rindu pada Jogja Makin Besar

Perlahan kamu coba mengumpulkan sisa kekuatan, berdiri di atas puing-puing asa. Lalu, melangkah gontai menuju pintu taksi yang membawa ke bandara.

Air mata tidak boleh jatuh, setidaknya sampai nanti pesawat mendarat dan tiba di tujuan.

Akhirnya, tangis itu pecah. Air mata membasahi bantal di kamar tidur di sana, ratusan kilometer dari Jogja.

Seminggu sudah kakimu menjejak aspal kota itu. Kau berpikir bahwa waktu akan berpihak padamu dan cerita tentang Jogja akan berlalu.

Namun, saat malam tiba, ketika lampu tidur menyala, bayangan tentang jalanan Jogja berseliweran di benakmu.

Kamu tidak bisa membohongi diri sendiri, bahwa rindu pada kota ini mulai gentayangan menyelimuti hati.

Setahun berlalu. Sedikit demi sedikit ruang dalam otakmu terisi oleh rutinitas di situ. Tapi, itu tak sedikit pun mengurangi rindu.

Baca juga: Bahasa Walikan Khas Jogja, Bukan Sekadar Membalik Huruf

Malam demi malam kau lalui dengan bayangan, aroma khas wedang jahe dari warung angkringan di dekat tempat kos seing kali menggerayangi mimpimu.

Kemudian kau terbangun dan merasakan sebagian pipimu telah basah oleh air mata yang tertumpah.

Tahun kedua kau di sana, perasaan kehilanganmu akan dia telah sirna. Benar, waktu berpihak padamu untuk hal itu.

Sayangnya, rasa kehilanganmu atas Jogja tak pernah bisa hilang. Semakin hari semakin kokoh berdiri, seperti kokohnya bangunan lawas yang berdiri di sudut kota ini.

Kembali ke Jogja

Bagaimana dengan aku? Mungkin kau berpikir cuma kamu yang merasakan kerinduan itu, kangen pada setiap sudut Jogja.

Aku sama sepertimu. Mengawali niat pergi dari kota ini dengan bulat. Berharap semuanya bisa terlupakan saat tak lagi di sini.

Seperti juga dirimu, waktu berpihak padaku untuk melupakan kehilangan, memulai segalanya dengan hal baru.

Tapi, rasa tentang Jogja masih sama. Aku merindukan suasana dan romantismenya, kangen pada tiap sudutnya.

Ya, aku rindu pada gudeg dan tiwul, kangen suasana Malioboro ketika senja menggantikan sore.

Bahkan pada suara tapal kuda yang menarik andong.

Baca juga: Bukti Pernah ke Jogja, 5 Tempat Ini Sering Jadi Lokasi Swafoto

Saat bulan suci Ramadan tiba, kamu tahu apa yang mengusik hatiku? Aku kangen takjilan di sejumlah masjid di kota ini.

Aku merindu pada kerumunan warga yang berebut gunungan saat sekaten, pada angkuhnya puncak Merapi, pada wedang jahe seduhan Kang Jamal.

Sama juga sepertimu, aku tak lagi merasakan kehilangan yang dulu, tapi kehilangan suasana Jogja ternyata lebih menyiksa.

Cenil, gethuk, galundeng, gatot, dan thiwul jadi sesuatu yang sangat istimewa. Aku rindu pada mereka. Bahkan pada Jembatan Sayidan.

Sampai akhirnya, keinginan untuk kembali ke kota ini semakin tak mampu tertahan. Aku tak lagi peduli pada kehilangan yang lampau.

Rindu pada suasana Jogja yang tersimpan selama belasan tahun harus terbalas. Liburan selama sepekan tiap tahun tak mampu menuntaskannya.

Satu-satunya cara adalah kembali ke pelukannya. Tidak ada kehilangan dan kerinduan yang lebih menyakitkan dari ini.

Keputusanku tepat. Aku kembali di sini, menatap puncak Merapi setiap pagi, tertidur lelap di sudut Jogja saat malam menyelimuti.

Entah bagaiamana denganmu. Kabarmu pun aku sudah tidak tahu. Tapi akku yakin, rindu itu masih membelenggu.

 758 kali dilihat,  3 kali dilihat hari ini

error: Content is protected !!