20 September 2022

Jalanan Jogja

Menyusuri Jalanan Jogja

Ginardi perajin kerajinan anyaman eceng gondok.

Ginardi perajin kerajinan eceng gondok di Kecamatan Pandak Bantul.

Kerajinan Anyaman Eceng Gondok, Tak Sesederhana yang Terlihat

JALANANJOGJA.COM – Kerajinan anyaman eceng gondok mungkin bukan lagi sesuatu yang asing, terlebih untuk orang-orang yang hidup di Jogja dan sekitarnya.

Sejak tahun 1990an, perajin eceng gondok mulai muncul di Jogja dan sekitarnya, bahkan di beberapa daerah lain.

Namun, seiring berjalannya waktu variasi kerajinan berbahan eceng gondok terus mengalami penambahan.

Dari yang tadinya hanya berbentuk tatakan gelas dan tikar, berkembang menjadi beragam jenis kerajinan lain, seperti tas hingga keranjang laundry.

Tapi, berkembangnya kerajinan dan bertambahnya jumlah perajin, menyebabkan bahan baku eceng gondok pun semakin langka.

Pada era 1997 hingga 1999, tidak sulit mencari tumbuhan gulma tersebut di sekitar Jogja. Saat itu, lokasi perburuan eceng gondok hanya sampai di sekitar Klaten, Jawa Tengah.

Kini, sebagian perajin anyaman eceng gondok harus berburu bahan baku hingga ke daerah lain di  Jawa Tengah.

Ginardi misalnya, perajin anyaman eceng gondok yang tinggal di Caturharjo, Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul, mengaku mendapatkan bahan baku dari Demak dan Tegal.

Hingga beberapa tahun lalu, Ginardi masih bisa membei eceng gondok dari daerah Ambarawa, Jawa Tengah, yang menurtunya memiliki kualitas terbaik.

Seorang perempuan sedang menganyam batang eceng gondok untuk dijadikan anyaman. Foto: jalananjogja.com

Hanya saja, sejak beberapa waktu terakhir, bahan baku dari Ambarawa mulai berkurang, karena lokasinya mulai dibersihkan untuk tempat wisata.

Akhirnya, ia memesan dari Demak dan Tegal, yang menurutnya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Batang-batang eceng gondok yang berasal dari Tegal, Jawa Tengah, disebutnya memiliki kelebihan dari sisi panjangnya.

Sementara, bahan baku dari Demak, menurutnya unggul dari sisi kebersihan dan cara suplayer memotong.

Kerajinan Anyaman Eceng Gondok dan Harga BBM

Ginardi mengaku sebelum kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada awal September lalu, harga eceng gondok Rp5.500 per ikat.

Namun, setelah kenaikan harga BBM tersebut, harganya meningkat menjadi Rp6 ribu.

Walaupun begitu, ia mengaku belum bisa memastikan kenaikan harga jual kerajinan buatannya, yang pasti, kata dia, biaya produksi akan meningkat.

Baca juga: Kerajinan Pipa Rokok Berbahan Tanduk di Kotagede

Setidaknya biaya pengiriman atau transportasi pasti akan meningkat seiring kenaikan harga BBM tersebut.

Seorang pria menjemur kerajinan anyaman eceng gondok, di Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul. Foto: jalananjogja.com

Beruntung, saat ditemui pada Kamis, 8 September 2022 lalu, ia masih memiliki stok alat dan bahan yang cukup, seperti lem dan cairan antijamur.

Pria yang mengaku telah bergelut dengan batang-batang eceng gondok sejak tahun 1995 ini, mengaku tidak terpengaruh dengan pandemi Covid-19.

Bahkan, saat pandemi melanda, ia justru memperoleh cukup banyak pesanan kerajinan anyaman.

Gi, sapaan akrabnya, juga memberdayakan masyarakat di sekitar tempat tinggalnya untuk bekerja sebagai perajin.

Total jumlah warga yang membantunya mencapai lebih dari 30 orang. Belasan di antaranya merupakan karyawan dengan upah harian.

Sedangkan lainnya, bekerja dengan sistem borongan, yakni mereka mengambil bahan baku mentah dari Gi, kemudian mengerjakannya di rumah masing-masing.

Setelah pekerjaan tersebut kelar, mereka menyetorkan kembali hasil anyaman setengah jadi pada Ginardi.

Proses Produksi

Meskipun sekilas terlihat mudah, proses produksi kerajinan anyaman eceng gondok tak semudah yang dibayangkan.

Awalnya, ia harus memipihkan batang-batang eceng gondok kering sebelum kemudian menganyamnya.

Foto: jalananjogja.com

Dalam menganyam pun ada dua jenis anyaman, yakni anyaman untuk alas yang menggunakan eceng gondok pipih, dan anyaman untuk dinding keranjang yang menggunakan eceng gondok utuh.

Baca juga: Perajin Mainan Berbahan Kayu, Bangkit setelah Badai Pandemi

Setelah proses penganyaman selesai, kerajinan setengah jadi itu kemudian masuk pada proses pencucian dan penjemuran.

Selanjutnya, anyaman-anyaman itu harus melewati proses pencelupan cairan antijamur agar lebih awet, lalu kembali ke proses pengeringan.

 1,306 kali dilihat,  159 kali dilihat hari ini

error: Content is protected !!