20 September 2022

Jalanan Jogja

Menyusuri Jalanan Jogja

Perajin mainan berbahan kayu

Seorang perajin mainan berbahan kayu sedang berproduksi. Foto: Jalanan Jogja.

Perajin Mainan Berbahan Kayu, Bangkit setelah Badai Pandemi

JALANANJOGJA.COM – Perajin mainan berbahan kayu mulai menggeliat setelah dua tahun melewati badai pandemi.  Namun, pemasarannya terkendala pada sejumlah hal.

Suara bor terdengar samar beriring dengan ketukan palu di salah satu rumah di Kunden, Kelurahan Jetis Wetan, Kecamatan Pedan, Klaten, Jawa Tengah, siang itu, Kamis, 4 Agustus 2022.

Kali ini kita menyusuri jalanan bukan di area Jogja, tapi sedikit ke timur, tepatnya di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Beberapa pria tampak sibuk dengan kayu bahan baku pembuatan mobil-mobilan, tepatnya truk mainan.

Seorang pria berambut putih dan bertopi mengecat potongan-potongan kayu dengan warna putih, di halaman samping rumah milik Joko (48) tersebut.

Sementara beberapa pria lain dan seorang wanita terlihat fokus pada tugasnya masing-masing di dalam rumah.

Jemari mereka lincah memotong, melubangi, hingga merangkai bagian-bagian potongan kayu menjadi truk mainan.

Asap rokok yang mengepul dari bibir salah seorang perajin itu menyebar keluar ruangan, lalu terbang menghilang terbawa tiupan angin.

Perajin mainan berbahan kayu. Foto: Jalanan Jogja.

Lokasi itu merupakan tempat pembuatan mainan anak dan alat peraga pendidikan untuk pendidikan anak usia dini (PAUD) serta taman kanak-kanak (TK).

Joko, pemilik usaha kerajinan itu menjelaskan, awalnya usaha miliknya tersebut hanya fokus pada pembuatan alat peraga pendidikan.

“Nek (kalau) peraga sudah sejak tahun 1990, alat peraga untuk taman kanak-kanak, intine itu saya dulu,” jelasnya saat berbincang di tempaat itu.

Perajin Mainan Berbahan Kayu dan Dampak Pandemi

Setelah puluhan tahun menggeluti usaha kerajinan kayu untuk alat peraga, pandemi Covid-19 yang melanda dunia menyebabkan usahanya menurun.

Pemesan alat peraga pendidikan buatannya menurun drastis. Padahal, kerajinan buatannya tersebut sudah merambah sejumlah kota lain di luar Klaten, termasuk hingga ke Makassar, Sulawesi Selatan.

Joko pun harus memeutar otak agar usaha yang telah dirintisnya selama puluhan tahun dapat terus hidup.

“Lha pas kemarin-kemarin, pas covid itu kan sepi, terus saya beralih ke mainan truk.”

Baca juga: Kerajinan Pipa Rokok Berbahan Tanduk Kerbau di Kotagede

“Karena kalau mainan truk itu kan untuk umum, jadi pemasarane kan nggak terbatas,” ucapya menjelaskan alasan beralih pangsa paasar.

Terlebih, cukup banyak pelanggat yang berminat membeli mainan anak. Bahkan saat menjellang lebaran, Joko sampai kewalahan memenuhi pesanan.

Perajin mainan berbahan kayu. Foto: Jalanan Jogja.

Sebagai perajin, Joko tidaak menjual langsung hasil karyanga, melainkan melalui sejumlah pedagang eceran, yang disebutnya sebagai bakul.

Saat jelang lebaran, permintaan dari para bakul sangat tinggi.

“Kemarin kan ceritane yang ngetren itu (truk mainan), Mas. Waktu mau lebaran gitu, kita nggak bisa mencukupi, bakul permintaane banyak, kita nggak iso (bisa), karena ya itu, tenagane.”

Truk mainan jualan Joko bukan hanya berbahan kayu hasil buatannya, tetapi juga truk mainan buatan pabrik berbahan plastik, yang ia beli di salah satu penjual di Solo.

“Semua bahannya dari kayu, tapi ada juga yang dari plastik. Kalau plastik kan pabrikan, jadi kita belanja dari Solo. Kalau produksi kita, semua dari kayu,” ia menegaskan.

Joko menjual satu unit truk mainan dengan harga Rp65 ribu untuk ukuran kecil, dan Rp100 ribu untuk truk mainan berukuran besar.

Sedangkan, harga jual dari para bakul ke konsumen bervariasi, mulai dari Rp15hingga Rp175 ribu untuk truk mainan berukuran besar.

“Bentuknya mirip sama truk sungguhan, ini ada lampunya juga.”

Kendala Sumber Daya Manusia

Meski saat ini Joko lebih banyak memroduksi truk mainan yang sesuai dengan permintaan pasar, ia juga tetap membuat alat peraga pendidikan.

Hanya saja, produksi alat peraga pendidikan tersebut tidak sebanyak pembuatan mainan, dan hanya membuat saat menerima pesanan.

Terlebih, alat peraga pendidikan pangsa pasarnya terbatas pada sekolah-sekolah saja, seperti PAUD dan TK.

“Nek alat peraga itu kan terbatas, cuma untuk sekolahan TK saja.”

“Alat peraga itu saya kirim sampai Makassar, Malang, tapi ya cuma dikirim aja, nanti di sana ada yang njualin,” tuturnya.

Selain pandemi, Joko mengaku memiliki kendala lain dalam memasarkan alat peraga pendidikan buatannya, yakni sumber daya manusia yang kurang paham teknologi.

Menurutnya, pada dasarnya permintaan alat peraga pendidikan masih ada, tetapi jika mengaacu pada aturan yang berlaku saat ini, pemasaran ke satuan pendidikan harus secara online, yakni melalui aplikasi SIPLah (Sistem Informasi Pengadaan di Sekolah).

“Sebetulnya jalan, tapi ndak seperti dulu.Karena peraturan pemerintah sekarang rumit, kita nggak bisa ngikutin,” jelasnya.

Perajin mainan berbahan kayu. Foto: Jalanan Jogja.

“Sekarang kan pemerintah tiap tahun menurunkan dana, BOP (bantuan operasional penyelenggaraan untuk PAUD dan TK) namanya itu. Itu kan sekarang sistemnya SIPLah, penjualan secara online, kalau kita kan SDMnya nggak mumpuni jadi nggak bisa ngikuti hahaha.”

Ia menyebut, karyawannya sering kesulitan untuk masuk ke aplikasi SIPLah.

Untuk mengatasi kendala itu, terkadang Joko memasarkan barang produksinya melalui orang lain, ia menyebutnya sebagai sub.

“Kita bisanya cuma ngesub.”

Ndilalah bakule kulo saged SIPLah nggih rodo lumayan (kalau bakul saya bisa masuk SIPLah ya agak lumayan),” ucapnya.

Tapi, sebagian bakul yang membeli kerajinan hasil produksinya tidak bisa mengaplikasikan SIPLah, sehingga pemasarannya kurang banyak.

Sebagai seorang warga di kampungnya, sesekali Joko turut menyumbangkan kerajinan hasil produksinya untuk kegiatan kampung, misalnya perayaan kemerdekaan Indonesia.

“Tergantung kegiatan kampung, biasanya kalau ada karnaval, kita ngeluarin produksi kita,” kata Joko.

 9,431 kali dilihat,  159 kali dilihat hari ini

error: Content is protected !!