Perubahan Tren Kipas Bambu Sejak Tahun 1987

Bagikan

Jogja sepertinya tidak bisa tidak identik dengan kerajinan dan kreativitas warganya. Entah dari mana dan bagaimana caranya, para perajin yang ada di Jogja seolah seperti mempunyai ide untuk memroduksi kerajinan sesuai dengan keterampilan mereka.

Ada perajin yang mempelajari keterampilan turun temurun dari nenek moyang atau orang tuanya. Ada juga yang belajar secara otodidak. Tapi, ada juga yang “mencuri ilmu” dari tempatnya bekerja, dan membuka usaha kerajinan sendiri.

Hari itu, sehari setelah pergantian tahun dari tahun 2020 menuju tahun 2021, secara tidak sengaja melintas di kawasan Kampung Jipangan, Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Di salah satu sudut jalan, tepat di samping rumah seorang perajin kipas bambu, puluhan bahkan mungkin ratusan bilah bambu berceceran tidak teratur. Pemiliknya sengaja menjemur potongan-potongan buluh itu di tepi jalan sebelum membuatnya menjadi kipas.

Di dalam ruang depan rumah yang berfungsi sebagai showroom, terdapat semacam etalase kaca. Isinya beragam barang kerajinan. Mulai dari gantungan kunci dan pernak-pernik kecil lain hingga kipas beragam ukuran.

Pemilik usaha kerajinan kipas itu bernama Alif. Dia mulai belajar membuat kipas pada tahun 1985, saat dia masih duduk di bangku SMA. Waktu itu dia sekolah sambil bekerja di salah satu perajin kipas. Dia terpaksa bekerja karena orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikannya.

Setelah tamat SMA, Alif mencoba membuka usaha kipas sendiri, tepatnya sekitar tahun 1987. Beragam jenis kipas pernah menjadi tren sejak saat itu.

Pada periode 1987 hingga 1990-an, kipas yang banyak peminatnya adalah kipas besar yang biasanya untuk hiasan dinding.

Tapi, mulai tahun 1990an hingga tahun 2000, kipas jenis itu mulai menurun peminatnya, berganti dengan kipas topi. Kipas topi bisa berfungsi sebagai topi saat tipasnya terbuka setengah. Namun, pada tahun 2000 hingga saat ini, jenis kipas yang paling banyak peminatnya adalah kipas kecil sebagai suvenir pesta pernikahan.

Pemasaran Kipas di Jogja

Kipas-kipas suvenir hasil karyanya telah terjual hingga ke luar Yogyakarta, mulai dari Surabaya, Jakarta, bahkan ke Pulau Sulawesi dan ke Jerman. Hanya sekitar 10 persen kipas buatannya yang pemasarannya di wilayah Jogja.

Penjualan kipas suvenir tersebut, lanjut Alif, cukup lancar. Sekitar 90 persen kipas buatannya pemasarannya justru di luar Yogyakarta, mulai dari Jakarta, Bandung, Surabaya, hingga ke Pulau Sulawesi. Sisanya, sekitar 10 persen pemasarannya di sekitar Yogyakarta.

Salah satu hasil kerajinan berupa kipas dari bambu yang diproduksi di Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul.

Semua bambu bisa menjadi bahan baku pembuatan kipas. Tapi sebagian besar kipas buatannya menggunakan bahan baku dari bambu hitam. Padahal, sebenarnya kualitas bambu putih atau bambu apus lebih bagus. Hanya saja, dari segi biaya dan tampilan, bambu hitam lebih cocok sebagai bahan baku..

Harga bambu putih lebih mahal daripada bambu hitam. Selain itu teksturnya pun lebih keras.

Selama ini bahan baku pembuat kipas diperoleh di sekitar Desa Bangunjiwo. Beberapa waktu lalu memang dia sempat merasa kesulitan mendapatkan bahan, sehingga harus membelinya dari daerah Purworejo, Jawa Tengah.

Harga kipas-kipas itu cukup terjangkau, mulai dari Rp1.500 hingga Rp5.000, tergantung ukuran kipas. Kipas yang digunakan sebagai suvenir memiliki empat ukuran standar, yakni 14 sentimeter, 17 sentimeter, 19 sentimeter, dan 25 sentimeter.

Kendala Perajin Kipas Kala Pandemi

Pandemi Covid-19 cukup memengaruhi omzet penjualan kipas. Dulunya setiap dua pekan dia rutin mengirim kipas karyanya ke salah satu pelanggan yang berasal dari Jakarta. Pembelinya itu selalu mau menerima berapa pun jumlah kipas yang dikirim.

Tapi, sejak pandemi melanda pengiriman ke pelanggan itu menurun drastis, yakni sekitar dua atau tiga bulan sekali.

Bahkan pada Maret 2020 hingga beberapa bulan selanjutnya dia sama sekali tidak menerima pesanan kipas. Beruntung, sejak akhir tahun 2020 pesanan kipasnya mulai berangsur normal. Kini dia mulai kembali bisa memroduksi sekitar dua ribu kipas setiap harinya jika cuaca sedang cerah.

Dalam memroduksi kipas dia membutuhkan sinar matahari yang terik untuk menjemur dan mengeringkan kipas. Jika cuaca hujan, tidak satu pun kipas bisa diproduksi pada hari itu.

Baca juga: Besek Ngejreng Jogja yang Mendarat d Amerika

 166 kali dilihat,  2 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!