Pot Tanaman Bermodal Ban Bekas, Palu, dan Paku

Bagikan

Menyusuri jalanan di Yogyakarta nggak melulu harus di dalam kota. Banyak juga hal menarik yang ada di kabupaten-kabupaten di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, yang terdekat dari pusat Kota Yogyakarta adalah Kabupaten Bantul dan Sleman.

Setelah menikmati kuliner di Gejayan, kali ini penyusuran jalan menuju ke Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul. Letaknya beberapa belas kilometer ke arah barat daya Kota Yogyakarta.

Ada beberapa jalur yang bisa kamu lewati kalau mau menuju ke Srandakan. Tapi aku lebih suka melalui Gua Selarong, salah satu lokasi yang menjadi markas Pangeran Diponegoro saat melawan kolonial Belanda, dulu.

Suasana di Gua Selarong masih sangat alami, ada air terjun yang mengalir di sekiar gua. Tapi, tentang Gua Selarong mungkin aku tulis di penyusuran jalan yang selanjutnya. Sabar ya.

Sebetulnya aku kurang begitu hafal dengan jalur menuju lokasi yang aku tuju kali ini. Di sana ada perajin pot bunga berbahan ban luar sepeda motor bekas. Tepatnya di Dusun Cagunan, Kecamatan Srandakan. Jangan khawatir, ada bantuan peta daring di ponselku. Kita nggak akan tersesat meskipun mblusuk-mblusuk.

Kerajinan pot dan ayunan berbahan ban bekas ini milik Joko. Di depan rumah Joko tersusun pot tanaman hasil karyanya. Warnanya beragam, tapi dominasi warna-warna cerah, seperti biru dan merah terlihat jelas di situ.

Joko memroduksi pot-pot itu di halaman samping rumahnya yang sekaligus menjadi bengkel las miliknya. Hampir sama dengan di halaman depan, di tempat produksinya juga bertumpuk ban luar bekas sepeda motor. Bedanya, ban yang ada di tempat produksi masih belum berbentuk pot atau ayunan.

Joko mulai memroduksi kerajinan berbahan ban bekas ini sejak pandemi Covid-19. Kala itu orderan las menurun drastis. Dia pun memutar otak dan mencari ide untuk mendapatkan penghasilan tambahan di kala pandemi. Pilihannya jatuh pada produksi pot bunga.

Pemilihan produksi pot bunga atau tanaman bukan tanpa alasan. Kembali boomingnya bisnis tanaman selama pandemi menjadi alasan utama. Dia harus membuat sesuatu yang berhubungan dengan itu.

Limbah Ban Bekas

Setelah memastikan untuk memroduksi sesuatu yang berhubungan dengan tanaman, dia kembali berpikir tentang bahan-bahan. Tentu saja bahan yang digunakan harus yang seekonomis mungkin. Akhirnya pilihannya jatuh pada ban bekas. Mungkin sama seperti saat kamu memilihnya dulu. Eeeaaaa.

Ide menggunakan ban luar bekas pun muncul. Sebab selama ini ban luar bekas hanya menjadi limbah dan sangat jarang yang menggunakan atau mengolahnya menjadi barang lain yang bernilai ekonomis.

Dia membeli bahan baku ban luar bekas di beberapa bengkel. Kini, dalam sekali membeli bahan baku, dia bisa mengambilnya dalam jumlah cukup banyak, yaitu satu mobil. Jumlahnya mencapai ratusan glundung ban bekas.

Untuk membuat pot dan kerajinan lain, Joko hanya menggunakan palu dan paku. Eh, hampir lupa, dia juga menggunakan semacam pisau untuk memotong dan mengiris ujung ban. Ban-ban yang sudah diiris menyerupai pita kemudian dianyam menjadi alas pot. Selanjutnya dia tinggal menyambung alas dan badan pot menggunakan palu dan paku.

Meski terkesan mudah, ada proses yang membutuhkan banyak tenaga dalam pembuatan kerajinan berbahan ban luar bekas ini (walaupun tak sesulit kamu melupakan dia), yakni membalik bagian dalam ban menjadi di sisi luar.

Pot-pot itu dibanderol dengan harga yang sangat terjangkau, mulai dari Rp35 ribu hingga Rp75 ribu, sedangkan ayunan anak dijual dengan harga Rp 40 ribu.

Kalau kamu punya banyak ban bekas di rumah dan ingin mencoba memroduksi kerajinan yang sama, mungkin kamu perlu berkunjung ke Srandakan untuk belajar pada Joko.

 194 kali dilihat,  4 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!