20 September 2022

Jalanan Jogja

Menyusuri Jalanan Jogja

Seekor ayam yang dipelihara di peternakan ayam Kandang Suro Bledheg, di kawasan Kadipiro, Yogyakarta.

Ayam Petarung Berdarah Murni dan Campuran

Hari  ini cerah banget, Lur. Eh, kamu pasti tahu kan kalau “Lur” adalah sapaan akrab brada dan sista di Yogyakarta. Kalau tadi belum tahu, sekarang pasti sudah tahu. Sepertinya siang ini kita bakal menyusuri jalanan di Jogja tapi bukan ke tempat jajan atau tempat dolan.

Rencananya aku mau mblusuk ke gang-gang di daerah Kadipiro, sekitaran Jl Wates. Di sana ada peternakan ayam, tapi bukan sembarang ayam. Di peternakan ayam yang namanya “Kandang Suro Bledheg” ini kamu cuma bisa menemukan ayam-ayam petarung dengan kualitas yang nggak perlu kita ragukan.

Ayam-ayam yang ada di Kandang Suro Bledheg ini hampir semuanya jelas asal-usulnya, yaitu dari ayam-ayam petarung yang nggak lembek.

Di peternakan yang sudah berdiri sejak tahun 1996 ini, ada beberapa jenis ayam petarung, mulai dari ayam berdarah murni seperti ayam Bangkok dan ayam Birma, hingga ayam berdarah campuran (aku langsung inget Hermione di film Harry Potter). Ayam berdarah campuran sebenarnya merupakan ayam yang merupakan hasil perkawinan silang, yaitu ayam Magon, ayam Manadaeng, dan jenis lain.

Meskipun berdarah campuran, ayam-ayam hasil kawin silang itu pun tak diragukan saat bertarung. Ayam Magon misalnya. Ayam hasil silangan ayam Birma dan Saigon ini memiliki tulang yang kuat seperti ayam Saigon, tetapi memiliki gaya bertarung dan agresivitas seperti ayam Birma.

Nama Magon merupakan akronim dari Birma dan Saigon. Persilangan kedua jenis ayam impor itu untuk mendapatkan ayam yang tangguh dan kuat.

Ayam Saigon mempunyai ciri khas kepala yang botak. Pukulannya saat bertarung sangat kuat dan tubuhnya keras. Sayangnya ayam Saigon kurang agresif saat bertarung. Sementara, ayam Birma memiliki tubuh yang lebih kecil dengan tulang yang kecil. Tetapi mereka agresif dan cepat saat bertarung.

Ayam berdarah campuran lainnya adalah Manadaeng. Ayam ini merupakan hasil perkawinan silang dari beberapa jenis ayam. Saat ini ayam Manadaeng sudah menjadi ayam ras baru. Orang banyak menyukai jenis ayam ini karena gaya bertarungnya yang brutal.

Petarung yang Tak Kenal Menyerah

Memelihara ayam petarung dan menernaknya terkadang bukan hanya menyalurkan hobi atau mengisi waktu, juga bukan melulu tentang nilai ekonomis. Ada beberapa hal yang patut menjadi contoh atau bisa kita tiru dari sikap ayam-ayam petarung.

Seekor ayam petarung di Kandang Suro Bledheg, Yogyakarta yang dilepaskan menantang ayam lain yang ada di dalam kurungan.

Roes, pemilik peternakan ayam Kandang Suro Bledheg berpendapat bahwa ada banyak hal tentang mentalitas yang patut kita contoh dari ayam-ayam petarung. Salah satunya adalah mental petarung yang tidak kenal menyerah.

Ayam petarung biasanya memiliki mental itu, dan dapat saat mereka bertarung hal itu akan terlihat. Ayam aduan akan tetap melawan meski mengalami cedera serius, seperti bola matanya pecah akibat terkena taji lawan.

Ada juga ayam yang memberikan psy war atau perang psikis sebelum berlaga. Dalam imaji, ayam itu seolah-olah menggertak lawannya,  dan berpesan agar si lawan pergi atau dia akan menghajarnya sampai mati.

Semangat-semangat semacam itu patut menjadi contoh, khususnya saat menghadapi masalah hidup, agar orang tidak mudah menyerah dan putus asa. Jangan seperti itu yang di sana, yang putus asa waktu pacarnya minta putus.

Biasanya ayam-ayam petarung berlaga di dalam suatu kontes. Saat mereka bertarung, taji tajam mereka dibungkus agar tidak mencederai lawan dengan parah. Dalam kontes-kontes ayam petarung pun sama sekali tidak ada perjudian.

Durasi pertarungan ayam di kontes resmi mulai dari 15 menit hingga 20 menit. Para juri di kontes resmi dibekali dengan alat penghitung pukulan ayam.

Untuk mendapatkan ayam petarung yang berkualitas bukan hal yang mudah. Peternak harus rajin melatihnya dan memberi pakan secukupnya, agar tubuh dan berat badan ayam tidak berlebihan. Terlebih dalam kontes resmi, sebelum mereka berlaga, ayam-ayam itu harus menjalani penimbangan badan. Mereka akan bertarung di kelas yang sesuai dengan bobot tubuhnya.

Dalam kontes ada beberapa kelas berat ayam, mulai dari berat 2,6 kilogram, 2,8 kilogram, 3 kilogram, 3,2 kilogram, hingga 3,4 kilogram.  Jika berat ayam berlebih, mereka akan kurang leluasa bergerak dan menghajar lawannya.

 1,067 kali dilihat,  6 kali dilihat hari ini

error: Content is protected !!