21 September 2022

Jalanan Jogja

Menyusuri Jalanan Jogja

Bangunan berupa cungkup yang menjadi pelindung makam Rara Mendut dan sang kekasih, Pranacitra, di di kawasan Gandu, Desa Sendangtirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman.

Cinta Abadi Rara Mendut, Penjual Tembakau Cantik

Cinta abadi Rara Mendut atau Roro Mendut terhadap pasangannya mungkin cukup menarik, termasuk kisahnya hingga meninggal.

JALANANJOGJA.COM – Cinta abadi Rara Mendut atau Roro Mendut terhadap pasangannya mungkin cukup menarik, termasuk kisahnya hingga meninggal.

Bangunan berukuran sekitar 3×5 meter itu menjadi satu-satunya bangunan di tanah kosong yang berhadapan dengan pesawahan, di kawasan Gandu, Desa Sendangtirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman. Dari kejauhan bangunan itu terlihat sedikit seram dengan pepohonan besar di sekitarnya.

Bangunan itu adalah cungkup atau rumah kecil yang berfungsi sebagai pelindung makam yang ada di dalamnya. Sebagian sudut tembok cungkup sudah retak. Coretan-coretan pada dinding cungkup semakin mengesankan bahwa tempat itu tak terawat, seperti rasamu padaku yang tak pernah kau rawat, kemudian sirna.

Di dalam cungkup terdapat dua makam, yakni makam Rara Mendut dan kekasihnya, Pranacitra. Tapi jika hanya melihatnya sekilas, hanya ada satu nisan di dalamnya.

Suasana di dalam cungkup cukup remang-remang. Pencahayaan hanya berasal dari sinar matahari yang masuk melalui celah-celah bangunan. Keadaaan di situ cukup mampu membuat bulu kuduk merinding.

Entah angin apa yang membuatku tiba-tiba berpikir untuk mblusuk ke tempat itu, tempat yang sama sekali jauh dari kata indah apalagi romantis.

Di dekat nisan terdapat semacam nampan yang sepertinya untuk meletakkan sesaji. Ada beberapa batang rokok di situ.

Berdasarkan beberapa artikel di internet, dulunya makam itu menjadi salah satu tempat untuk mencari pesugihan. Salah satu syarat agar niat itu tercapai adalah dengan melakukan ritual seks. Tapi itu dulu, belasan tahun lalu, sebelum warga setempat akhirnya melarang kegiatan tersebut.

Pendiri komunitas Indonesia Graveyard sedang memotret makam Rara Mendut menggunakan ponselnya. Indonesia Graveyard adalah komunitas yang mempelajari sejarah dengan mendatangi makam.

Kini makam itu begitu sunyi, mungkin sama seperti sunyinya hati Rara Mendut saat hubungan asmaranya dengan Pranacitra harus kandas.

Cinta Abadi Rara Mendut Sampai Mati

Kisah cinta Rara Mendut dan Pranacitra diyakini terjadi pada sekitar abad ke-17 atau kurang lebih pada 1600-an,  zaman Kesultanan Mataram.

Rara Mendut adalah anak angkat dari Adipati Pesantenan yang kini bernama Pati. Setelah takluk dari Kerajaan Mataram, Adipati Pati menyerahkan upeti harta benda, termasuk puteri angkatnya yang cantik jelita, Rara Mendut.

Kecantikan Rara Mendut membuat Wiraguna, seorang tumenggung, jatuh hati. Dia berniat mempersunting Rara Mendut. Namun cintanya tak terbalas, sebab Rara Mendut memiliki kekasih bernama Pranacitra.

Penolakan itu membuat Wiraguna kecewa. Dia mewajibkan Rara Mendut untuk membayar upeti. Rara Mendut pun menyanggupi meski untuk itu dia harus berjualan tembakau di pasar.

Wajahnya yang rupawan menjadi daya tarik tersendiri untuk para pelanggan. Bahkan para pria bersedia membeli rokok yang telah diisap oleh Rara Mendut dengan harga mahal.

Makam Rara Mendut dan Pranacitra.

Sang kekasih, Pranacitra yang mengetahui bahwa Rara Mendut berada di Mataram akhirnya menyusulnya. Mereka bertemu secara tidak sengaja, dan merencanakan pelarian.

Rara Mendut menyampaikan rencana pelarian itu pada Putri Arumardi, seorang selir Wiraguna yang tidak setuju jika Wiraguna menambah selir. Dia membantu pelarian keduanya.

Tapi, Wiraguna mengetahui pelarian keduanya, dan mengejarnya bersama pasukan kerajaan. Dia berhasil menangkap Rara Mendut dan membunuh Pranacitra. Saat itu Rara Mendut tidak mengetahui bahwa Pranacitra telah tewas.

Wiraguna menyampaikan tewasnya Pranacitra pada Rara Mendut, dengan harapan Rara Mendut berubah pikiran dan menerima cintanya. Tapi Rara Mendut tidak percaya. Dia meyakini bahwa Pranacitra masih hidup.

Wiraguna kemudian mengajak Rara Mendut ke makam Pranacitra, untuk membuktikan ucapannya bahwa Pranacitra sudah mati. Melihat makam Pranacitra, Rara Mendut sangat sedih. Dia merasa hidupnya tidak berguna tanpa Pranacitra. Rara Mendut kemudian bunuh diri menggunakan keris milik Wiraguna. Keduanya pun dimakamkan di tempat yang sama.

 1,160 kali dilihat,  3 kali dilihat hari ini

error: Content is protected !!