18 Mei 2022

Jalanan Jogja

Menyusuri Jalanan Jogja

Suasana di Antaka Pura atau Istana Kematian, kompleks makam Ratu Mas Malang dan Ki Dalang Panjang Mas, di Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul.

Istana Kematian Tempat Bersemayam Ratu Mas Malang

JALANANJOGJA.COM – Istana Kematian Antaka Pura atau makam Ratu Mas Malang menjadi tujuan selanjutnya, setelah beberapa kali mblusuk ke kompleks pemakaman di sekitar Jogja.

Penyusuran kali ini kembali mblusuk ke kompleks makam yang memiliki kisah sejarah nan pilu, yakni makam Ki Dalang Panjang Mas dan istrinya Ratu Mas Malang.

Letaknya di  Desa Pleret, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, atau sekitar 15 kilometer ke arah tenggara dari pusat Kota Yogyakarta. Kamu bisa mengikuti peta ini.

Makam Ki Dalang Panjang Mas berada dalam satu kompleks dengan makam sang istri, yakni Ratu Mas Malang. Lokasi tepatnya berada di puncak Gunung Kelir, sekitar 100 meter dari permukaan laut. Kompleks makam itu dibangun pada tahun 1665 dan selesai pada tanggal 11 Juni 1668, atau pada masa pemerintahan Amangkurat I.

Tembok kompleks makam yang dinamai Antaka Pura atau Istana Kematian itu terbuat dari batu putih serta batu andesit untuk nisan.

Suasana di Istana Kematian itu cukup teduh meski matahari bersinar terik. Sejumlah pepohonan besar sangat berguna untuk meredam gerah akibat panasnya mentari.  Meski beralas tanah, siapa pun yang akan memasuki area makam harus melepas alas kakinya.

Jangan membayangkan jalanan yang mulus dan landai jika ingin berkunjung ke tempat itu. Meski teduh dan menenangkan, jalur untuk tiba di sana cukup terjal dan mampu menguras keringat serta membuat nafas terengah-engah.

Puluhan nisan yang tersebar di area Istana Kematian menambah kesan mistis meski siang hari. Batang-batang pohon tua yang berurat seperti mendukung kesan tersebut.

Makam Ki Dalang Panjang Mas terletak di susut kiri belakang Istana Kematian, tepat di bawah pohon besar yang rimbun. Saat mengunjungi tempat itu, pohon yang menaungi makam terbungus oleh kain putih, sementara batu nisan Ki Dalang Panjang Mas tertutup oleh kain jarik berwarna cokelat.

Sementara, makam sang istri, Ratu Mas Malang, terletak di tengah-tengah Istana Kematian. Ada lima makam lain di samping makam Ratu Mas Malang.

Sejarah Istana Kematian dan Dalang Panjang Mas

Selain makam keduanya, terdapat 26 makam lain, yakni 19 nisan di halaman depan, 1 nisan di halaman belakang (termasuk nisan Ki Dalang Panjang Mas) dan 8 nisan berada di halaman inti (termasuk makam Ratu Mas Malang).

Dua peziarah dari Indonesian Graveyard sedang duduk di dekat makam Ki Dalang Panjang Mas.

Seluruh jasad yang dimakamkan di tempat itu disebut-sebut merupakan rekan Ki Dalang Panjang Mas yang membantunya saat mendalang, mulai dari sinden, pemain gamelan, dll. Mereka semua terbunuh bersama sang dalang.

Ki Dalang Panjang Mas adalah seorang dalang keraton yang hidup pada masa pemerintahan Amangkurat I. Dia memiliki seorang sinden atau penembang bernama  Retno Gumilang, yang merupakan putri dari seorang dalang Wayang Gedog bernama Ki Wayah. Retno Gumilang inilah yang kelak bernama Ratu Mas Malang.

Mungkin kisah cinta Ki Dalang Panjang Mas dan Retno Gumilang seperti cinta lokasi anak muda zaman now. Karena sering bersama, terlebih dengan kecantikan paras Retno Gumilang serta suaranya yang merdu, ki dalang pun jatuh cinta dan memperistrinya.

Kecantikan Retno Gumilang pula yang akhirnya menyebabkan kematian Ki Dalang Panjang Mas. Penguasa kala itu, yakni Amangkurat I, rupanya memiliki selera yang sama dengan ki dalang. Dia jatuh cinta pada Retno Gumilang, dan meminta Ki Dalang Panjang Mas untuk menyerahkan istrinya.

Tentu saja ki dalang enggan. Dia berani menentang keinginan penguasa demi mempertahankan Retno Gumilang. Sebenarnya aku enggan menuliskan kisah ini, sebab usahaku mempertahankanmu tak sekeras usaha Ki Dalang Panjang Mas.

Satu-satunya cara Amangkurat I untuk mendapatkan Retno Gumilang adalah dengan membunuh Ki Dalang Panjang Mas.

Pembunuhan Ki Dalang

Berdasarkan penjelasan juru kunci kompleks makam, Amangkurat I menyusun rencana pembunuhan ki dalang. Dia memerintahkan Ki Dalang Panjang Mas memainkan wayang di keraton. Di sanalah ajalnya tiba. Ki dalang dan para pembantunya terbunuh.

Jasad mereka dikuburkan di Gunung Kelir, yang saat itu belum menjadi kompleks makam Istana Kematian.

Kematian Ki Dalang Panjang Mas menyebabkan Retno Gumilang menjadi janda yang kemudian diperistri oleh Amangkurat I sebagai selir.

Makam Ratu Mas Malang (tengah) di Istana Kematian atau Antaka Pura.

Rasa sayang Amangkurat I pada Retno Gumilang yang begitu besar dapat terlihat dengan dia menjadikannya sebagai prameswari atau permaisuri. Retno Gumilang pun mendapat gelar Ratu Mas Wetan atau Ratu Mas Malang.

Meski menjadi permaisuri, Ratu Mas Malang belum bisa melupakan mantan suaminya yang terbunuh, Ki Dalang Panjang Mas. Hidupnya berselimut kesedihan meski bergelimang harta.

Pada tahun 1665 Ratu Mas Malang meninggal dunia, namun penyebab kematiannya masih simpang siur. Ada yang menyebut bahwa kematiannya akibat racun oleh orang-orang di sekitarnya, tetapi ada juga yang menyebut bahwa kematiannya karena bunuh diri.

Setelah kematian Ratu Mas Malang, Amangkurat I tidak langsung menguburkan jasadnya. Amangkurat I masih menjaganya, hingga suatu malam Amangkurat I memimpikan Ratu Mas Malang telah bersatu dengan mantan suaminya, Ki Dalang Panjang Mas.

Berdasarkan mimpi itu, Amangkurat I pun menguburkan Ratu Mas Malang di dekat makam Ki Dalang Panjang Mas. Dia kemudian memerintahkan membangun kompleks makam tersebut dengan dinding berbahan batu putih.

 714 kali dilihat,  3 kali dilihat hari ini

error: Content is protected !!