17 Mei 2022

Jalanan Jogja

Menyusuri Jalanan Jogja

Seorang peziarah mengabadikan makam Nyai Melati menggunakan ponselnya.

Mblusuk ke Kompleks Makam Nyai Melati di Kotagede

Mblusuk ke kompleks makam mungkin bukan hal yang menarik untuk sebagian orang, tapi itu bisa jadi menarik.

JALANANJOGJA.COM – Mblusuk ke kompleks makam mungkin bukan hal yang menarik untuk sebagian orang, tapi itu bisa jadi menarik.

Mungkin kamu pernah dengar bahwa semua sudut Jogja memiliki sisi romantis, setidaknya jika tak memiliki sisi romantis, tiap sudut Yogyakarta bisa menjadi kenangan dan mengendap dalam hati.

Tapi, apakah kamu tahu bahwa ada sudut-sudut yang suasananya sedikit membuat bulu kuduk berdiri? Kalau kamu pernah mendengar tentang hal itu, biasanya sudut-sudut itu terletak di kompleks pemakaman.

Jogja memiliki sejumlah kompleks pemakaman. Beberapa di antaranya adalah pemakaman lawas alias kuno. Tidak jarang pemakaman-pemakaman itu menyimpan sejarah. Baik sejarah tentang pembangunan kompleks pemakaman maupun sejarah mengenai tokoh yang yang dimakamkan di situ.

Mungkin ke depannya kita bukan Cuma menyusuri jalan raya Jogja, tetapi bakal sering mblusuk ke gang-gang kecil atau perkampungan yang memiliki kompleks pemakaman, kemudian membahas sejarah atau legendanya.

Salah satu lokasi pemakaman yang sempat disinggahi adalah makam Nyai Melati di kawasan Kampung Singosaren, Kotagede, Yogyakarta.

Saat itu hari pertama tahun 2021. Mendung tebal menyelimuti langit, menutup menghalangi cahaya matahari. Pepohonan rindang di sekitar kompleks makam menambah kesan gelap.

Gemericik suara air yang mengalir di sebelah selatan kompleks makam membuat suasana terasa lebih dingin.

Di sebelah utara, tembok yang tersusun dari batu bata kuno berdiri kokoh meski sebagian dindingnya berselimut lumut hijau. Tembok itu adalah bagian dari Benteng Cepuri yang berdiri sejak zaman Kerajaan Mataram Islam.

Satu per satu tetesan gerimis menyentuh tanah, membasahi dedaunan dan nisan yang sebagian tampak tak terawat.

Mblusuk ke Kompleks Makam Mencari Berkah

Dua peziarah terlihat berjalan cepat dari arah kompleks makam. Sepertinya mereka menghindari hujan. Kedua peziarah itu datang bukan karena hal mistis atau semacamnya. Mereka adalah orang-orang yang tertarik pada sejarah makam-makam kuno.

Satu dari mereka tampak sedikit paham tentang makam Nyai Melati. Peziarah di makam itu dulunya sering mencari wangsit atau berkah dari makam. Biasanya mereka bertujuan mencari petunjuk tentang nomor lotere. Tapi, belum tentang sosok Nyai Melati, belum ada penjelasan yang pasti.

Tembok kuno Benteng Cepuri yang terletak tidak jauh dari kompleks makam Nyai Melati di Kotagede, Yogyakarta.

Cara mereka mendapatkan nomor lotere cukup unik, yakni dengan menggosok batu nisan Nyai Melati. Jika beruntung, akan ada sejumlah nomor yang muncul dari hasil gosokan tersebut. Tapi tidak ada penjelasan mengenai lafaz mantera atau ritual yang harus dilakukan para peziarah sebelum maupun sesudah menggosok nisan.

Namun, perlahan-lahan peziarah yang datang untuk mencari nomor lotere menghilang, seiring dengan tidak adanya lagi sejumlah program undian-undian berhadiah.

Seorang pedagang makanan yang menjual tidak terlalu jauh dari kompleks makam Nyai Melati juga menjelaskan tentang para peziarah yang datang untuk mendapatkan nomor lotere.

Versi si pedagang, peziarah yang menggosok batu nisan akan melihat angka-angka tertentu dengan warna yang berbeda. Jika angka yang muncul berwarna merah, sudah pasti nomor itu yang akan keluar pada saat undian berlangsung. Hanya saja, para peziarah meyakini suatu aturan tak tertulis, bahwa jika angka berwarna merah yang muncul, mereka tidak boleh membeli angka itu.

Baca Juga: Besek Ngehreng Jogja yang Mendarat di Amerika

Jika si peziarah membeli angka tersebut, dia pasti akan mendapatkan hadiah lotere, tapi nyawanya menjadi taruhan.

Suatu ketika, ada seorang pencari berkah yang mendapatkan angka berwarna merah. Dia nekat membeli angka yang muncul meski mengetahui risikonya.

Benar saja, dia memenangkan undian. Namun sehari setelahnya pria itu meninggal dunia tanpa sebab yang jelas.

Setelah kejadian itu, pengunjung atau peziarah yang datang pun semakin berkurang. Terlebih warga sekitar merasa resah dengan adanya kegiatan mencari berkah tersebut, mereka menilai itu bertentangan dengan budaya dan agama. Mereka pun melarang adanya kegiatan semacam itu.

Makam Kuno Lain

Selain kompleks makam Nyai Melati, di sekitar kawasan Kotagede juga terdapat beberapa kompleks makam kuno lain, yang tentu saja tidak kalah menarik, baik dari sisi sejarah tokoh maupun dari sisi bentuk makam yang unik.

Jika dalam menyusuri jalanan Jogja selanjutnya kita kembali mblusuk ke sana, mungkin akan ada cerita-cerita atau legenda berbau mistis yang nyempil. Tapi bukan berarti harus memercayai semua legenda yang ada.

Kisah-kisah sejarah tentang makam dan tokoh yang dimakamkan di sana mungkin cukup menarik untuk diketahui.

 570 kali dilihat,  3 kali dilihat hari ini

error: Content is protected !!