17 Mei 2022

Jalanan Jogja

Menyusuri Jalanan Jogja

Dua makam Tionghoa yang terletak di kawasan Mrisi, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, setelah dibersihkan.

Mblusuk ke Makam Tionghoa Lawas di Jogja

Mblusuk ke makam Tionghoa lawas di Jogja memang menyenangkan, khususnya untuk sebagian orang yang memang hobi mengunjungi makam tua.

JALANANJOGJA.COMMblusuk ke makam Tionghoa lawas di Jogja memang menyenangkan, khususnya untuk sebagian orang yang memang hobi mengunjungi makam tua Jogja.

Sering kali menyusuri jalanan di Jogja bukan untuk mencari tempat wisata atau tempat jajan, meski mblusuk itu tetap bernilai dolan untuk mereka.

Mengunjungi makam Tionghoa lawas di Jogja salah satunya.

Seperti hari itu, Minggu, 11 April 2021. Tujuh anggota “genk kuburan” mblusuk ke makam Tionghoa lawas di kawasan bukit di Mrisi, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul.

Masing-masing mereka membawa peralatan tempur berupa sapu, cangkul kecil, dan alat lain semacamnya.

Awalnya, beberapa dari mereka menemukan bukit itu beberapa waktu lalu. Di sana mereka melihat sejumlah makam Tionghoa lawas.

Beberapa makam tampak tak terawat. Semak belukar menutupi makam-makam itu. Belum lagi jalur menuju ke lokasi makam yang cukup terjal dan melewati semak-semak setinggi dada orang dewasa.

Hari itu mereka berniat mblusuk sekaligus membersihkan area sekitar makam Tionghoa kuno tersebut, apalagi melihat kondisinya yang tak terawat.

Bisa jadi tempat itu menjadi sarang binatang melata seperti ular atau kalajengking.

Kebayang gak sih, 7 orang yang terdiri dari 2 perempuan dan 5 pria secara suka rela membersihkan makam yang bukan siapa-siapa mereka.

Merawat Makam Tionghoa Lawas

Tujuan dan niatnya cuma satu, agar makam itu lebih terawat. Sebab, ada rasa miris dan kasihan melihat kondisi makam.

Salah satu makam Tionghoa yang belum sempat dibersihkan.

Persiapan lain selain peralatan bersih-bersih adalah lotion antinyamuk. Sebab lokasi di bukit itu penuh dengan nyamuk.

Nggak lucu kan kalau memotong dahan dan ranting sambil menggaruk atau menepuk nyamuk yang berdenging.

Setelah berdoa agar kegiatan hari itu berjalan lancar, satu per satu mereka melenggang menuju ke atas, melewati sejumlah makam dan kebun singkong milik warga.

Oh iya, salah satu dari ketujuhnya cukup paham cara menangani ular, sehingga  mereka tidak terlalu khawatir jika bertemu hewan melata itu.

Hanya beberapa menit kemudian, mereka tiba di lokasi makam Tionghoa lawas yang paling banyak tertutup tanaman liar. Nisan makam itu sampai nyaris tak terlihat karena tertutup tanaman.

Anggota “genk kuburan” sedang membersihkan area makam Tionghoa yang tak terawat di Mrisi, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul.

Mblusuk ke Makam Tionghoa Lawas Berusia Ratusan Tahun

Masing-masing mulai mengeluarkan peralatan. Selanjutnya, pembersihan pun mulai.

Ada yang memotong semak dengan sabit, membersihkan nisan makam, dan ada yang menyapu sisa-sisa potongan tanaman.

Setelah sekitar satu jam membersihkan tempat itu, perubahan mulai tampak.

Ukiran-ukiran berupa susunan tulisan Tionghoa dan ornamen lain berbentuk bunga serta hewan mulai bisa terlihat jelas.

Setidaknya ada tiga makam Tionghoa yang tampak tak terawat di sekitar lokasi itu. Jarak antarmakam hanya beberapa meter.

Makam tertua berusia sekitar 117 tahun, yakni makam Tn Yap Hong Tjan dan Ny Liem Kiok Nio, yang wafat pada tahun 1904.

Beberapa sumber menduga bahwa sosok yang dimakamkan di tempat itu memiliki gelar pejabat atau akademis dari Dinati Qing.

Ada dugaan keduanya tidak memiliki keturunan, karena kerabatnya atau anak angkat mereka yang membangun makam tersebut, yakni Kie Tiong (laki-laki) dan Tjin Nio (perempuan).

Ornamen berupa ukiran kuda berkepala naga di salah satu makam.

Makam lain, yaitu makam yang paling tampak tak terawat yang kemungkinan merupakan makam sepasang suami istri yang meninggal pada bulan Agustus/Setember 1923.

Keduanya adalah Yap Hong Yam (suami) dan Tjan Swan Nio (istri).

Mereka memiliki beberapa anak laki-laki dan perempuan, di antaranya Yap Kie Tjing dan Yap Kie Bing (anak laki-laki), serta  Yap Djoen/Loen Nio, Yap Hok Yoe, Yap Boen Nio, dan Yap Hoay/Koei Nio (anak perempuan).

Selain membersihkan makam tersebut, anggota “genk kuburan” itu juga menyempatkan diri untuk mengunjungi atau berziarah ke beberapa makam lain yang ada di tempat itu.

Anggota “genk kuburan” berpose setelah membersihkan makam.

 698 kali dilihat,  3 kali dilihat hari ini

error: Content is protected !!