Mblusuk ke Rumah Seniman Lawas di Kulon Progo

Bagikan

Menyusuri jalanan Jogja kali ini mengarah ke sebelah barat Kota Yogyakarta, tepatnya mblusuk ke Pedukuhan Pongangan, Desa Sentolo, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, di rumah seorang seniman lawas bernama Hindri Bramanti.

Di sana, Hindri sang seniman lawas yang sebagian besar rambutnya telah memutih sedang duduk di halaman rumahnya. Topi flanel tua yang bertengger di kepalanya. Pria berusia 67 tahun itu terlihat sedang bersantai dengan beberapa pria lain. Sejumlah cemilan tersaji di atas tikar tempat mereka duduk.

Desau suara angin siang itu berpadu dengan lamat-lamat suara mereka yang bercengkrama. Sesekali terdengar batang-batang bambu di halaman rumah seniman lawas ini bergesekan tertiup angin.

Hindri adalah seniman rupa, dia mematung, melukis, hingga membuat taman. Meski usianya tak lagi muda, semangatnya untuk berkarya tetap menyala. Salah satu karyanya yang belum selesai adalah patung berbentuk pemain dodog atau jathilan atau kuda lumping.

Patung itu berdiri kaku di halaman rumahnya, mengingatkan aku pada hatimu yang kaku dan beku, tanpa ada rasa lagi padaku. Tapi, ah sudahlah. Kamu mungkin hanya sedikit dari kepahitan dalam hidup.

Hindri mulai berkarya di bidang seni rupa sejak tahun 1970-an. Kala itu dia memulai karyanya dengan membuat pola batik dan desain gerabah. Dia memesan gerabah sesuai desainnya pada perajin di kawasan Kasongan.

Dia kemudian mengolah kembali gerabah, melapisinya dengan dempul mobil agar menjadi lebih halus dan mengilap, lalu menjualnya.

Hindri Bramanti, seorang seniman lawas berusia 67 tahun, sedang membereskan sejumlah gambar sketsa wajah, di rumahnya.

Tapi, Hindri sempat menghilang dari peredaran. Lagi-lagi aku teringat padamu, yang mengilang tanpa pesan, menorehkan luka, dan kembali muncul bersama duka.

Seniman Lawas yang Menepi

Setelah beberapa lama menghilang, Hindri sang seniman lawas ini bertemu seorang rekannya, yang saat itu mendapatkan order pembuatan prasasti berukuran besar. Sang teman pun mengajaknya turut serta dalam proyek itu.

Dari temannya yang lain, Hindri juga mendapat kepercayaan menggarap desain dan pengerjaan taman di salah satu kompleks perkantoran.

Kini, Hindri menepi jauh dari kebisingan, di rumahnya yang berdinding batako, sekitar 20 kilometer dari pusat Kota Yogyakarta, dia terus berkarya.  Di kampungnya Hindri juga membantu pengurus pedukuhan untuk memperindah desa. Salah satunya adalah membuat patung yang nantinya akan menjadi penghias jalan masuk ke tempat itu.

Seniman lawas di Kulon Progo inibuga menerima pesanan lukis mural di tembok-tembok agar terlihat lebih indah dan hidup. Bahkan Hindri menggambar sketsa wajah beberapa tetangganya di situ secara gratis. Dia melakukan semuanya dengan sepenuh hati, sebab baginya seni dan karya merupakan jalan hidup dan cintanya.

Dia memiliki mimpi, menjadikan desa tempatnya tinggal sebagai desa wisata. Terlebih desa itu dulunya cukup terkenal sebagai salah satu sentra kesenian jathilan di Kulon Progo. Kini kesenian itu mulai jarang dipentaskan. Kurangnya regenerasi dan hadirnya pandemi menjadi penyebabnya.

 582 kali dilihat,  4 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!