Mblusuk Menjelajahi Makam Kuno di Timur Jogja

Bagikan

Menjelajahi kompleks makam mungkin bukan hal menarik untuk sebagian orang. Bahkan tak jarang kompleks makam menjadi hal yang menyeramkan. Tapi tidak demikian dengan sejumlah pemuda yang tergabung dalam Genk Kuburan. Hobi mereka menjelajahi kompleks makam. Jalanan Jogja mengikuti mereka Mblusuk ke makam kuno di timur Jogja.

Para pemuda ini mblusuk ke sejumlah kompleks makam tua di Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul, dan Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman. Setidaknya ada empat kompleks makam yang di dalamnya terdapat makam lawas atau kuno yang mereka datangi.

Kalau kamu punya hobi mengunjungi kompleks makam tua dan bangunan kuno, ketiga lokasi pemakaman ini bisa coba kamu datangi saat berkunjung ke Jogja. Sebab, Jogja bukan hanya tentang wisata alam, kuliner, budaya, dan kenangan. Tetapi juga menyimpan banyak kisah sejarah.

Makam Kuno Cendonosari

Kompleks makam pertama yang mereka kunjungi hari itu, Sabtu, 22 Mei 2021 adalah situs makam Cendonosari di Wonocatur, Kecamatan Banguntapan. Untuk tiba di kompleks makam ini, kamu harus menaiki sejumlah anak tangga dan melewati tiga pintu. Biasanya pintu-pintu itu terkunci. Kamu harus menghubungi juru kunci jika ingin berziarah.

Sejumlah makam di kompleks makam kuno Cendonosari, Desa Wonocatur, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul.

Di tempat itu bersemayam jenazah Patih Danurejo VII, suami dari GKR Angger (adik HB VII). Sejumlah makam yang ada di situ terletak di dalam sebuah bangunan berlantai marmer. Dua makam utama berada di tempat paling depan, yakni makam sang patih di sebelah kanan dan makam istrinya di sebelah kiri.

Cuaca gerah saat di luar ruangan terasa sangat berbeda dengan di dalam. Di situ terasa lebih adem atau dingin, meski tak sedingin sikap dan tatapanmu padaku saat kita terakhir kali bertemu.

Beberapa payung yang kuncup berdiri kaku di sudut kiri ruangan. Kaku seperti jawaban dari bibirmu kala aku mencoba meneleponmu.

Setelah beberapa saat berziarah di kompleks makam itu, para pemuda dengan hobi unik ini melanjutkan blusukannya. Satu per satu mereka berjalan menuruni anak tangga. Jejak kaki mereka tak meninggalkan bekas, berbeda dengan jejakmu yang membatu di hatiku.

Makam Pangeran Purubaya

Makam Pangeran Purubaya terletak tidak terlalu jauh dari Situs Makam Cendonosari, hanya sekitar dua kilometer ke arah timur, atau 10 menit perjalanan menggunakan sepeda motor. Lokasinya berada dalam kompleks Masjid Sulthoni Wotgaleh, Kelurahan Sendangtirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman.

Masjid ini didirikan pada masa Mataram Islam, tahun 1600 M dan dikenal sebagai salah satu Masjid Pathok Negoro.

Kompleks makam itu terdiri dari tiga bagian, yakni makam utama tempat anak Panembahan Senopati, yakni Pangeran Purubaya, dan keluarganya bersemayam, serta dua bagian lain untuk tempat pemakaman abdi dalem dan warga.

Pangeran Purubaya juga dikenal dengan nama Jaka Umbaran. Sebab, saat masih kecil, Pangeran Purubaya “diumbar” atau dilepaskan oleh orang tuanya. Pangeran Purubaya meninggal tahun 1676 Masehi.

Dulu, ada kepercayaan bahwa apa pun yang melintas di atas makam tersebut akan jatuh menghujam tanah, termasuk burung dan kelelawar. Itu jauh berbeda denganku, yang jatuh dalam cinta saat pertama kali mengenalmu, kemudian terjatuh lebih dalam ke dalam lara ketika kamu pergi.

Makam Gemblung

Setelah berziarah di kompleks makam Pangeran Purubaya, mendoakan, dan beristirahat di sana. Personel Genk Kuburan melanjutkan blusukannya ke makam kuno lain di timur Jogja, yang terletak di Dusun Sumber Kidul, Desa Kalitirto, Kecamatan Berbah, yang dikenal sebagai kompleks makam Gemblung.

Kompleks makam ini terletak di tepi jalan, hanya beberapa puluh meter ke arah barat lokasi wisata Lava Bantal. Lokasinya berada di semacam bukit kecil di sisi utara jalan. Kompleks makam itu terdiri dari beberapa bagian, mulai dari pekuburan Muslim hingga pekuburan Nasrani.

Di situ ada makam berusia ratusan tahun, tepatnya sejak tahun 1773. Selain itu, pada salah satu makam juga terdapat ukiran wulan manunggal atau bulan sabit, yang biasanya terdapat pada nisan zaman Sultan Agung. Tapi, tidak diketahui apakah nisan itu berasal dari zaman Sultan Agung atau nisan baru yang diberi ornamen ukiran wulan tumanggal.

Beberapa sumber mengatakan, lokasi di sekitar kompleks makam tersebut cukup angker. Dulu, sering muncul penampakan makhluk halus di ruas jalan itu. Seperti bayangmu yang tiba-tiba hadir dalam sepiku.

Kerkhof di Makam Sono Praloyo

Kompleks makam selanjutnya yang mereka kunjungi hari itu adalah makam kuno di kompleks makam Sono Praloyo di Kali Pentung, Desa Kalitirto, Kecamatan Berbah. Di tempat itu terdapat satu kerkhof atau nisan peninggalan zaman penjajahan Belanda.

Kerkhof atau nisan zaman penjajahan Belanda di kompleks makam Sono Praloyo.

Kerkhof itu masih berdiri kokoh dengan tulisan “Hier Rust” yang artinya “Beristirahat di Sini”, di bawah tulisan itu terdapat tulisan lain berbunyi “Vrauwe” yang menunjukkan bahwa sosok yang dimakamkan di tempat itu adalah perempuan. Di bawahnya lagi terdapat nama JF dr Bly, yang lahir pada 21 Januari 1823 dan meninggal pada 1 September 1905. Sayangnya, tidak ada penjelasan tentang kerkhof yang ada di kompleks makam itu.

 648 kali dilihat,  2 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!