20 September 2022

Jalanan Jogja

Menyusuri Jalanan Jogja

Suasana di komplek tempat pemakaman umum (TPU) Sasanalaya, Yogyakarta, Rabu, 14 Maret 2021.

Mblusuk Menyusuri Jejak Makam Kassian Cephas di Jogja

Mblusuk menyusuri jejak makam Kassian Cephas, fotografer profesional pribumi pertama di Indonesia.

JALANANJOGJA.COM – Mblusuk menyusuri jejak makam Kassian Cephas, fotografer profesional pribumi pertama di Indonesia menjadi tujuan menyusuri jalanan Jogja kali ini.

Suasana di tempat pemakaman umum (TPU) Sasanalaya, Jl Ireda, Yogyakarta, siang itu, Rabu, 14 April 2021, cukup lengang. Hanya ada tiga peziarah dan tiga penjaga makam di situ. Di tempat itulah jasad Kassian Chepas, fotografer pribumi profesional pertama bersemayam untuk terakhir kalinya.

Seperti kemarin, langit di Jogja berselimut mendung, meski masih ada celah untuk matahari menghujamkan sinarnya. Beberapa batu nisan di kompleks makam itu tampak tertutup oleh bayangan pepohonan. Sementara di tengah kompleks makam, seorang pria membakar dedaunan dan ranting kering, menimbulkan asap putih yang membubung tinggi.

Asap putih tipis sisa pembakaran dedaunan kering di TPU Sasanalaya, Rabu, 14 April 2021.

Ratusan batu nisan yang berjejer di situ mungkin tampak seram untuk sebagian orang, dan bagi mereka pemakaman umum bukan lokasi pilihan untuk dolan. Terlebih pohon-pohon tua dengan batang berurat yang tak jarang memberi kesan seram.

Tapi selalu ada cerita menarik setiap kali mblusuk ke tempat pemakaman umum. Setidaknya, ada niat untuk lebih mencari tahu kepingan sejarah tentang sosok tokoh yang bersemayam di sana, termasuk di Sasanalaya.

Di antara ratusan makam, ada satu titik yang besar kemungkinannya merupakan tempat Kassian Chepas bersemayam. Letaknya tidak jauh di sebelah selatan makam Arie Frederik Lasut, pahlawan nasional. Hanya beberapa belas meter dari tembok belakang TPU.

Dugaan terkuat makam Kassian Cephas, fotografer pribumi profesional pertama, terletak di antara kedua makam ini.

Mungkin hanya kalangan tertentu saja yang mengenal Kassian Chepas, khususnya kalangan fotografer. Kassian Chepas adalah fotografer asal Yogyakarta. Dia menjadi fotografer khusus Keraton Yogyakarta di ujung abad ke-19.

Kala itu dunia fotografi masih menjadi sesuatu yang langka dan asing, khususnya untuk pribumi. Tapi, Kassian Chepas sudah bergelut di bidang itu. Dia memotret kegiatan-kegiatan keraton dan para bangsawan, termasuk raja di masa itu, Sri Sultan Hamengku Buwono VII.

Makam sang Fotografer Sultan

Bukan hanya memotret Sultan dan kegiatannya, kedekatannya dengan pihak keraton memudahkan Cephas memotret kehidupan di keraton, termasuk memotret keluarga raja, bangunan, maupun kegiatan-kegiatan keraton. Kassian Cephas juga memotret candi serta bangunan bersejarah.

Seorang kakek beristirahat di salah satu makam di tempat pemakaman umum (TPU) Sasanalaya, Yogyakarta, Rabu, 14 April 2021.

Bahkan, berkat keterampilannya memotret, sebagian rakyat yang saat itu tidak pernah mengenal wajah rajanya, bisa melihatnya dari foto karya-karya Kassian Cephas.

Dikutip dari beberapa sumber, Cephas juga pernah menjadi bagian dari beberapa penelitian monumen kuno zaman Hindu-Jawa, dia bertugas mendokumentasikan temuan-temuan di Kompleks Candi Rara Jonggrang, Prambanan. Penelitian oleh Archeological Union itu berlangsung pada tahun 1889 hingga 1890.

Lembaga yang sama juga melakukan penelitian di Candi Borobudur, dan menggunakan jasa Kassian Cephas untuk dokumentasi. Cephas memotret sekitar 300 foto dan menerima bayaran 10 Gulden per lembar foto. Kala itu dia menerima sebanyak 3 ribu Gulden, atau sepertiga dari total anggaran penelitian.

Salah satu makam yang ada di TPU Sasanalaya, Yogyakarta.

Keterampilannya memotret juga membuat Kassian Cephas, sang fotografer dekat dengan lingkungan elit. Dia pun memulai upaya untuk mendapatkan status “equivalent to Europeans” (sama dengan orang Eropa) baginya dan dua anak laki-lakinya pada tahun 1888.

Makam Kassian Cephas 2 Kali Pindah

Cephas lahir di Yogyakarta  pada 15 Februari 1844 dari pasangan Kartodrono dan Minah. Namun sumber lain menyatakan, Chepas lahir pada tanggal 15 Januari 1845.

Dia mulai mempelajari fotografi pada tahun 1860an dari tiga orang Belanda, yakni  Isidore van Kinsbergen, Simon Willem Camerik, dan Isaac Gronemen. Cephas semoat magang di kantor milik Isidore sekitar tahun 1863 hingga 1875.

Pada periode itu, Cephas menikah dengan Dina Rakijah, tepatnya tahun 1866. Sang fotografer meninggal pada tanggal 16 November 1912, dan pemakamannya dilaksanakan di sekitar Pasar Beringharjo. Di tempat itu pula Dina dimakamkan.

Sisa makam dan batang pohon di area tempat pemakaman umum (TPU) Sasanalaya, Yogyakarta.

Namun lebih dari setengah abad kemudian, tepatnya pada tahun 1964, pihak keluarga sang fotografer memindahkan makam keduanya ke TPU Sasanalaya. Dugaan terkuat, posisi makam Cephas terletak di Blok H7. Sebelum pindah ke blok itu, makam Cephas berada di Kuburan 3a no 43 Sasanalaya, atau bekas THR atau Purawisata.

Saat ini batu nisan Cephas sudah tidak ada lagi, sehingga lokasi pemakamannya pun hanya berdasarkan dugaan yang bersumber dari buku catatan makam. Berdasarkan informasi yang diperoleh, saat ini nisan makam Cephas disimpan oleh kerabatnya. Tapi, informasi ini pun masih simpang siur.

Batu-batu nisan di antara pepohonan tua dengan batang berotot di TPU Sasanalaya.

 1,911 kali dilihat,  6 kali dilihat hari ini

error: Content is protected !!