20 September 2022

Jalanan Jogja

Menyusuri Jalanan Jogja

Warga Yogyakarta memiliki sejumlah tradisi yang rutin mereka lakukan. Salah satunya adalah nyadran atau nyekar atau berziarah kubur menjelang bulan suci Ramadan.

Nyadran, Tradisi Ziarah Kubur di Jogja Jelang Ramadan

JALANANJOGJA.COM – Nyadran, adalah salah satu tradisi berupa berziarah kubur ke makam keluarga yang telah meninggal.

Bicara tentang Jogja seperti tidak bisa lepas dari budaya dan adat istiadat. Warga Yogyakarta memiliki sejumlah tradisi yang rutin mereka lakukan.

Salah satunya adalah nyadran atau nyekar atau berziarah kubur menjelang bulan suci Ramadan. Biasanya tradisi ini dilakukan oleh warga Muslim.

Menyusuri jalanan Jogja kali ini bukan ke lokasi dolan atau tempat wisata, bukan juga ke tempat jajan atau kuliner, juga bukan ke perajin barang kerajinan yang tersebar di hampir setiap sudut Jogja.

Minggu, 4 April 2021, atau sekitar seminggu menjelang bulan suci Ramadan, sejumlah warga sudah mulai melakukan tradisi nyadran tersebut. Salah satunya di Kompleks Makam Ki Ageng Karang Lo, yang terletak di wilayah Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul.

Sebagian besar peziarah datang bersama rombongan atau lebih dari satu orang. Mereka serperti tak memedulikan sinar matahari yang terik menerpa kulit. Masing-masing rombongan menuju ke batu nisan atau makam keluarga mereka. Sesaat kemudian, mereka tampak khusyuk bertafakur, jongkok di dekat nisan sambil mengucapkan doa pada Tuhan.

Bunga tabur yang kebanyakan berwarna warna merah dan putih menghiasi gundukan tanah makam. Tangan-tangan yang tadi menaburnya kini menengadah memanjatkan doa, menembus awan-awan putih, menuju sang pencipta.

Seorang perempuan peziarah berdoa di samping makam keluarganya, di Kompleks Makam Ki Ageng Karang Lo, Minggu, 4 April 2021.

Pohon-pohon besar berurat di kawasan kompleks pemakaman sedikit meneduhkan makam-makam. Pucuk-pucuknya bergoyang tertiup angin siang, seiring dengan gerakan bibir mereka yang melafazkan doa.

Tradisi nyadran ini bukan sekadar melaksanakan kebiasaan, tetapi sekaligus menjadi penyambut datangnya bulan suci dengan jiwa yang bersih, saling memaafkan bagi yang masih bernyawa, dan mendoakan agar Yang Maha Kuasa mengampuni dosa-dosa keluarga yang telah berpulang lebih dahulu.

Nyadran di Makam Ki Ageng Karang Lo

Tidak jauh dari para peziarah itu, di tengah-tengah kompleks makam, terdapat satu bangunan berwarna putih tanpa atap. Di dalamnya ada batu nisan yang merupakan makam Ki Ageng Karanglo, seorang tokoh pada zaman pembentukan kerajaan Mataram.

Ki Ageng Karang Lo adalah sahabat dekat Ki Ageng Pemanahan. Dia yang membantu Ki Ageng Pamanahan membentuk Keraton Kerajaan Mataram di Kotagede.

Perkenalan Ki Ageng Karang Lo dengan Ki Ageng Pemanahan berawal saat Ki Ageng Pemanahan bertamu ke kediaman Ki Ageng Karang Lo  di Kampung Taji, timur Prambanan. Ki Ageng Pemanahan kala itu  sedang dalam perjalanan menuju Mentaok, yaitu tempat yang merupakan hadiah dari Sultan Pajang kepadanya.

Saat dikunjungi Ki Ageng Pemanahan, Ki Ageng Karang Lo dan keluarga menjamu rombongan tersebut dengan hidangan yang memuaskan. Rombongan Ki Ageng Pemanahan pun pamit untuk melanjutkan perjalanan ke Mentaok. Saat itu, Ki Ageng Karang Lo menyampaikan niatnya untuk turut serta ke Mentaok. Ki Ageng Pemanahan menerimanya dengan senang hati.

Makam Ki Ageng Karang Lo, salah satu orabg dekat Ki Ageng Pemanahan.

Ketika rombongan itu tiba di Sungai Opak, mereka bertemu dengan Sunan Kalijaga, yang menasihati mereka agar Ki Ageng Pemanahan dan Ki Ageng Karang Lo mempererat persahabatan mereka.

Nasehat Sunan Kalijaga tersimpan dalam hati Ki Ageng Pemanahan hingga dia membuka hutan Mentaok menjadi Kerajaan Mataram. Keduanya tetap bersahabat hingga akhir hayat.

Kompleks makam Ki Ageng Karang Lo pernah mengalami kerusakan pascagempa bumi pada tahun 2006. Namun pada tahun 2007 kompleks makam tersebut kembali direnovasi oleh seorang keturunan Tionghoa bernama Koh Hwat.

 794 kali dilihat,  3 kali dilihat hari ini

error: Content is protected !!