21 Mei 2022

Jalanan Jogja

Menyusuri Jalanan Jogja

Pengayuh becak di Jogja, Sutopo, sedang mengatur koleksi buku miliknya.

Pengayuh becak di Jogja, Sutopo, sedang mengatur koleksi buku miliknya.

Pengayuh Becak di Jogja yang Gemar Membaca

JALANAN JOGJA – Ada seorang pengayuh becak di Jogja yang menyediakan ratusan eksemplar buku bacaan di becaknya, untuk dipinjam secara gratis.

Jogja memang bukan hanya terkenal dengan budaya dan wisatanya saja, tapi sering kali muncul sesuatu yang unik dan inspiratif.

Kali ini aku menyusuri jalanan Jogja bukan untuk cari tempat jajan atau tempat dolan. Juga bukan mblusuk ke tempat-tempat yang sedikit nyeleneh.

Sebenarnya tulisan kali ini merupakan ketidaksengajaan. Maksudnya, bukan sesuatu yang sengaja dikunjungi.

Jadi, ceritanya begini, waktu hari Jumat, 24 Desember 2021 kemarin, sebagai warga negara Indonesia yang baik dan taat aturan, aku ikut vaksinasi dosis kedua.

Nah, sepulang dari lokasi vaksin, tanpa sengaja aku melihat bapak tua sedang mengayuh becak di Jl Tentara Pelajar.

Bapak ini searah denganku, menuju ke selatan. Sekilas tidak ada yang aneh dari becak yang dia kayuh. Tapi, pandanganku tertuju ke tulisan yang ada di becaknya.

Hal menarik lainnya, di dalam becak itu, di sisi kiri dan kanan kursi penumpang, ada rak yang isinya mungkin puluhan eksemplar buku bacaan.

Menurutku agak aneh saja sih, becak berisi buku-buku bacaan. Jadi, aku ikutilah tukang becak itu sampai ke tempat dia mangkal.

Koleksi buku milik seorang pengayuh becak di Jogja, Sutopo.

Setelah sedikit basa-basi, bapak itu aku tanyain tentang buku-buku yang ada di becaknya.

Rupanya bapak itu seorang pensiunan PNS yang kemudian mengayuh becak sejak tahun 2004. Buku-buku yang ada di becaknya sengaja dia sediakan untuk dibaca gratis.

Siapa pun boleh meminjam buku koleksinya yang sekarang jumlahnya sudah ratusan eksemplar. Sebagian besar buku koleksinya merupakan sumbangan dari orang-orang.

Sutopo, nama bapak itu, bukan sekadar mengayuh becak. Sejak kecil dia hobi membaca. Bahkan sejak kelas 4 sekolah dasar dia sudah menjadi anggota perpustakaan Amerika Serikat di Yogyakarta, namanya Jefferson Library.

“Sejak kelas 4 SD saya sudah jadi perpustakaan Amerika di Jogja, dulu ada di depan Pasar Kranggan, namanya Jefferson Library,” kata Sutopo yang hari itu mengenakan kemeja batik dan blangkon.

Buku Sumbangan untuk Pengayuh Becak

Awalnya, Sutopo hanya menyimpan sedikit buku di becaknya, yang dibacanya saat waktu senggang. Ternyata kebiasaannya membaca menarik perhatian beberapa pelanggan becaknya.

Mereka pun menyumbangkan buku untuk Sutopo. Sedikit demi sedikit koleksi bukunya bertambah. Hingga akhirnya mencapai puluhan eksemplar buku.

Dia merasa tidak adil jika buku hasil sumbangan orang-orang itu hanya dirinya yang membaca. Sutopo kemudian membuat rak buku di becaknya.

“Untuk 50 buku kan kurang etis kalau saya baca sendiri di rumah. Lalu saya punya ide untuk membuat rak di becak saya ini.”

Menurutnya, minat baca masyarakat di Jogja sebenarnya cukup tinggi, hanya saja sebagian orang merasa kesulitan membeli buku karena harganya yang dinilai cukup mahal.

Sementara, untuk meminjam atau membaca buku di perpustakaan pun tidak semua orang mempunyai waktu.

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan itu, pengayuh becak di Jogja ini kemudian sengaja menjadikan becaknya sebagai alat transportasi sekaligus perpustakaan.

“Lalu untuk masuk ke perpustakaan itu impossible mereka itu, nggak mungkin. Contohnya bakul pasar, tukang becak, pedagang kaki lima, pemulung, dan sebagainya,” tegasnya.

Kini, setiap hari Sutopo mangkal di Jl Tentara Pelajar, dan menyediakan buku-buku bacaan untuk siapa pun yang berkenan membaca.

Pengayuh becak di Jogja, Sutopo, sedang mengatur koleksi buku miliknya.

Kegiatan uniknya itu rupanya memberi berkah tersendiri untuk pria berusia 74 tahun tersebut.

Pernah seorang ibu meminjam buku koleksinya. Pada pinjaman pertama, ibu itu hanya mengembalikan buku saja.

Tapi, pada peminjaman yang kedua, dia menyelipkan sejumlah uang ke dalam buku yang dia pinjam.

Kemudian, pada peminjaman ketiga, ibu itu mengembaikan buku milik Sutopo dengancara memasukkan ke dalam kantung plastik. Di dalamnya juga terselip amplop.

Saat dia membuka amplop itu, isinya sungguh di luar dugaan. Ibu itu memasukkan uang sebesar Rp1 juta di dalamnya.

Dia pun mengejar si ibu karena khawatir ibu tersebut salah memasukkan uang. Ternyata si ibu tidak salah. Uang itu memang diberikan pada Sutopo.

 763 kali dilihat,  3 kali dilihat hari ini

error: Content is protected !!